Pada hari Minggu jam 08.00 WIB tanggal 30 April 2017 kami bersama sama berangkat dengan Pak Djarot M.B.U, M.Si. sekaligus dosen mata kuliah sosiologi dan sekaligus pendamping kami saat perjalanan. kami berangkat bersama sama dengan menggunakan 3 Bus, dengan total Mahasiswa sekitar 80 Mahasiswa, dengan 5 tujuan yaitu museum mojopahit, keraton mojopahit, candi tikus, makam Raden Wijaya, dan terakhir patung budha tidur. Kami berangkat pada jam 8 pagi dan tiba di museum Mojopahit kurang lebih jam setengah 11 siang dikarenakan jalanan yang macet. Tugas kami dimuseum yaitu menyebutkan 5 benda peninggalan mojopahit yang ada didalam museum. Setiba disana kami langsung berpencar untuk melihat – lihat benda peninggalan kerajaan mojopahit. Disekeliling museum dihiasi dengan taman rerumputan dan ada semacam kolam yang lebar didekatnya.

Masuk digedung depan terdapat jenis mata uang logam pada zaman tersebut, peralatan makan, gentong, guci, wayang alat perang dll. Menuju kegedung belakang ada berbagai macam patung, pahatan, contoh rumah pada zaman majapahit dan bebatuan. Mungkin kami tidak bisa menyebutkannya lebih detail karena memang banyak sekali benda-benda didalamnya, dan itu semua adalah benda yang sangat unik yang mungkin sudah tidak ada lagi dijaman sekarang. Satu jam kami berada dimuseum, kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali ke keraton mojopahit. Perjalanan dari museum ke keraton selama 10 menit.

Setiba disana kami disambut dengan monument patung maha patih Gajah Mada persembahan dari kapolri untuk keraton, masuk lebih dalam disitu terdapat pendopo dan sayangnya dikeraton mojopahit masih dalam proses pembangunan, di belakang pendopo ada tembok pembatas yang bergambarkan relief masyarakat mojopahit. Dihalaman belakang keraton ada sebuah balok kayu besar yang menancap ditanah, diselimuti dengan kain putih dan diberi pagar. Pak jarot berkata bahwa balok kayu tersebut adalah tempat untuk mengikat gajah-gajah peliharaan raja. Karena pada saat itu kendaraan sang raja bukan kuda melainkan gajah. Disebelah balok kayu ada pagar pembatas dan pintu untuk menuju kemakam Prabhu Rajasanegara atau yang lebih dikenal dengan sebutan Hayam Wuruk. Namun sayang, kami dilarang oleh pak jarot kesana karena makam Hayam Wuruk masih banyak penunggunya (makhluq ghaib). Tapi, tanpa disengaja ada 2 teman perempuan kami yang masuk kedalam makam dikarenakan dia masuk terlebih dahulu sebelum pak jarot dan yang lain masuk. mereka bercerita bahwa makam Hayam Wuruk tertutup dan ada banyak orang didalamnya. Saat mereka hendak masuk salah satu teman kami merasa ada satu keluarga yang lewat disampingnya dan hendak akan masuk juga. Namun saat dia menoleh tidak ada orang sama sekali disampingnya. Suatu hal yang mistis namun memang seperti itu yang terjadi. Dikeraton mojopahit kami diperintah untuk menyebutkan 2 benda yang ada pada keraton.

Setelah tugas selesai kami beristirahat sambil makan siang dan sholat. Selesai dari keraton kami melanjutkan perjalanan ke Candi Tikus. Perjalan kami tempuh selama 15 menit. Didalam area Candi Tikus tidak terlalu luas. Candinya kecil berada didalam kolam dan dikelilingi dengan batu bata. Candinya berada menjorok kedalam. Didalam kolam tersebut adalah tempat untuk pemandian putrid-putri raja. Di area candi tikus dikelilingi taman-taman yang hijau dan terdapat tumbuhan dengan beberapa bentuk, cukup panas karena memang kami kesana pada siang hari namun terdapat tempat duduk yang dibawah pohon untuk tempat kami berteduh. Oleh karena itu banyak pasangan yang melakukan foto prewedding di Candi Tikus karena memang spotnya lumayan keren. Dan kami juga pasti tidak melewatkan hal itu. Tugas kami di Candi Tikus yaitu menyebutkan 2 benda peninggalan sejarah pada area tersebut. Setelah dari Candi Tikus kami melakukan perjalanan kemakam Raden Wijaya, perjalanan kami tempuh selama 10 menit. Prabhu Kertharajasa Jayawardana atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Wijaya adalah raja pertama pada kerajaan Mojopahit, pada area makam cukup luas. Disebelah kiri dari pintu masuk ada semcam batuan datar, dimana batu tersebut adalah tempat Raden Wijaya untuk bertapa. Disebelah kana nada teras dan didepan teras ada bangunan bertingkat dan disamping pintu bangunan tersebut ada pohon besar yang membuat teduh sekitarnya.

Didalam bangunan itu makam Raden Wijaya berada, kami diberi izin untuk masuk oleh juru kuncinya. Didepan pintu dibawah pohon besar letak makam Raden Wijaya yang diapit oleh kedua selirnya dan dibawah makamnya terdapat dua orang pengasuh Raden Wijaya. Dibawah bangunan makam Raden Wijaya terdapat terdapat dua makam pengawal setianya yaitu Sapu Jagat dan Sapu Angin. Ada beberapa hal yang kami tanyakan kepada pak Jarot, pertama kenapa kami diperbolehkan masuk kedalam makam Raden Wijaya namun dilarang Masuk kedalam makam Hayam Wuruk dan kedua kenapa makam kedua raja tersebut berada dibawah pohon yang besar. Kemudian pak Jarot menjawab, makam Hayam Wuruk lebih banyak penunggunya ketimbang makam Raden Wijaya, karena pengikut Hayam Wuruk lebih banyak ketimbang Raden Wijaya. Yang kedua, para Raja berfilosofi bahwa semakin besar pohon yang tumbuh maka semakin membawa kedamaian. Itulah kenapa makam para raja berada dibawah pohon besar. Dimakam Raden Wijaya kami disuruh menyebutkan 3 benda yang ada disekitar makam. Kemudian perjalanan kami lanjutkan kepatung budha tidur dan perjalanan kami tempuh hampir setengah jam. Area di patung budha tidur juga cukup luas. Ada satu patung besar berwarna emas yang tidur miring kesebelah kanan. Diarea sekitar terdapat beberapa patung kecil yang tersebar, ada tempat pemujaan juga disekitarnya.

            Hal yang menarik selama study tour ini, dimana pada 4 tempat wisata menceritakan tentang penganut agama hindu, namun pada tempat wisata yang terakhir bercerita tentang agama budha. Padahal kami seluruhnya adalah beragama islam. Itulah fungsi untuk mengajarkan bagaimana saling menghargai antar umat beragama dan mengetahui sejarah satu sama lain. (Wardah/B2)