Generasi perubahan merupakan hal yang selalu digemborkan oleh media, mulai dari beberapa tahun ke belakang hingga sampai saat ini. Perubahan belum bisa berjalan dengan baik apabila individu tersebut belum siap akan adanya perubahan itu sendiri. Perubahan yang ada dianggap mampu memberi manfaat apabila semua kalangan mampu menikmati dan merasakan.

Sebagai bentuk penggunaan dan pemanfaatan teknologi yang berkembang dan berubah akhir-akhir ini, fenomena video viral semakin marak muncul di media Indonesia. Mulai dari yang positif sampai yang negatif. Mulai dari yang layak untuk diviralkan sampai yang tidak layak, dari kasus suap yang dilakukan pengendara yang ditilang kepada polisi yang baru saja terjadi sampai perilaku bullying pada anak autis yang sempat viral tahun lalu.

Sebagai bagian dari bentuk kontribusinya pada generasi yang ingin mengubah ke arah yang lebih baik, minggu (15/4/18) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) mengadakan Seminar Nasional dengan tema bullying. Tema spesifik yang diambil adalah Break The Silence For Make Your Change: “Talking Loud and Raise Your Voice for Breaking Your Fears”. Seminar Nasional ini diadakan di Aula K.H. Ahmad Dahlan Lantai 7 Gedung FEB, kampus 1, Umsida.

Menggandeng mantan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Islam Riau, Sigit Nugroho Mpsi Psikolog sebagai narasumber utama, acara seminar ini mampu menarik kurang lebih 250 mahasiswa dari dalam dan luar Umsida. Tema ini digunakan karena pada dasarnya hampir setiap mahasiswa pernah mengalami bullying, begitulah penjelasan Eko Hardiansyah, Dekan Fakultas Psikologi Umsida saat memberikan sambutannya.

Bullying atau dalam bahasa Indonesia disebut perundungan, merupakan hal yang sering terjadi di hampir semua tempat, mulai dari institusi sekolah sampai bidang politik. Perundungan merupakan suatu perilaku yang dilakukan berulang-ulang dengan tujuan untuk menyakiti, baik verbal ataupun fisik. “Di olahraga sendiri, bullying juga pernah dialami oleh beberapa pesepakbola terkenal seperti Balotelli.  Dia dibilang mirip kera,” jelas Sigit Nugroho.

Menurut narasumber yang masih menempuh kuliah S3 di Psikologi Universitas Airlangga ini, kepemilikkan perasaan superior merupakan salah satu komponen munculnya perilaku bullying. Perilaku bullying kadang dilakukan oleh satu orang ataupun berkelompok.

Cara yang paling ampuh saat menerima perlakuan seperti ini, jika belum mencapai tahap bullying (kekerasan) fisik, korban diharapkan mampu mengatakan dengan tegas dan berani bahwa dia tidak suka diperlakukan demikian. Mampu mengatakan tidak adalah kucinya.

Keberanian dalam membuat keputusan yang tepat saat terjadi perilaku bullying yang diterima atau hanya sekadar melihat adalah implementasi yang diharapkan dari seminar ini. Karena ini merupakan bagian dari keinginan generasi saat ini. (Mega/NAG)