Child Grooming

5 Fakta Child Grooming yang Terbaca dari Memoir Broken Strings

psikologi.umsida.ac.id — Ramainya pembahasan memoir Broken Strings karya Aurelie Moeremans memicu gelombang percakapan baru tentang child grooming di ruang publik.

Banyak pembaca mengaku baru memahami bahwa pengalaman relasi yang pernah mereka jalani ternyata mengikuti pola grooming mulai dari pendekatan yang terasa “baik” hingga kontrol yang pelan-pelan mengikat.

Pakar psikologi keluarga, Zaki Nur Fahmawati, M.Psi., Psikolog, menilai tren ini sebagai sinyal positif karena meningkatkan kewaspadaan sekaligus membuka jalan bagi korban untuk mencari pertolongan yang tepat.

“Semakin banyak orang membicarakan kasus seperti ini, semakin besar peluang orang lain menjadi aware bahwa grooming itu nyata dan bisa terjadi di sekitar,” ujar Zaki.

Ia menyebut respons pembaca terhadap kisah dalam Broken Strings terlihat kuat, mulai dari pengakuan “aku pernah berada di situasi seperti ini” hingga kesadaran “ternyata ini namanya grooming” dan “ternyata aku korban”.

Di tengah meningkatnya diskusi, Zaki menekankan bahwa isu child grooming tidak cukup dipahami sebagai kejadian “dramatis” yang mudah dikenali.

Justru, bahaya grooming sering tersembunyi di balik pola relasi yang tampak meyakinkan, romantis, dan seolah penuh perhatian.

Karena itu, literasi publik yang lahir dari pembacaan dan percakapan semacam ini dinilai penting, agar masyarakat punya “kacamata” yang lebih tajam untuk membaca pola manipulasi.

Grooming Bekerja Halus dan Sering Terlihat Seperti Perhatian

 Child Grooming

Menurut Zaki, child grooming pada dasarnya adalah manipulasi psikologis yang kerap tidak disadari sejak awal.

“Seringkali child grooming ini kan manipulasi, ini seringkali tidak disadari bahwa kita adalah korban,” katanya.

Di tahap awal, korban bahkan bisa merasa dirinya “jahat”, “tidak bisa memahami pasangannya”, atau menyalahkan diri sendiri, karena pelaku perlahan membentuk narasi bahwa korbanlah sumber masalah.

Zaki menjelaskan pelaku grooming cenderung dominan dan membutuhkan target yang lebih inferior atau memiliki kepercayaan diri rendah, karena lebih mudah dikontrol.

Namun perilaku dominan itu tidak langsung terlihat. “Tidak mungkin pelaku itu langsung menunjukkan perilakunya, tapi dia harus mencari targetnya dulu,” jelasnya.

Strategi pelaku sering dibungkus dengan citra positif: memberi hadiah, tampil sebagai sosok “wise”, “nice”, atau “pahlawan penolong” yang “selalu ada”.

Tahap ini membuat relasi tampak seperti “green flag”, padahal merupakan pintu masuk menuju kontrol, isolasi, dan manipulasi.

Ketika korban sudah terikat secara emosional, pelaku mulai mengatur: membatasi pergaulan, mengomentari pilihan hidup, memelintir fakta, hingga memaksa korban bergantung.

Zaki juga menekankan bahwa grooming tidak hanya terjadi pada anak-anak belia. Orang dewasa pun bisa menjadi korban karena polanya mirip dengan kekerasan dalam pacaran, toxic relationship, sampai KDRT.

Korban yang rentan sering memiliki pola pikir “aku tidak berharga” atau “aku tidak akan dapat yang lebih baik”, sehingga ketika pelaku mulai mengontrol, korban cenderung patuh karena kehilangan kepercayaan pada diri sendiri.

Dampaknya Panjang dan Tanda Awal Perlu Dibaca Serius

 Child Grooming

Di sisi lain, Zaki mengaku sedih karena child grooming dapat meninggalkan trauma besar dan berdampak panjang.

“Kasus-kasus seperti ini akan mengakibatkan trauma yang luar biasa dan tanpa treatment yang tepat saya rasa orang akan kesulitan juga untuk bisa bertumbuh,” tuturnya.

Dampak yang sering muncul, menurutnya, meliputi harga diri yang makin rendah, rasa tidak berdaya, rasa bersalah yang menumpuk, hingga kesulitan mempercayai orang lain.

Korban juga dapat memandang dunia sebagai tempat yang “jahat” karena pengalaman buruk itu berlapis: misalnya, korban tumbuh dalam keluarga yang kurang hangat atau relasi kuasa yang timpang, lalu bertemu pelaku yang dominan dan mengontrol.

Situasi ini memperkuat keyakinan korban bahwa ia memang “ditakdirkan” berada dalam relasi yang menyakitkan.

Zaki menilai faktor keluarga punya peran besar dalam membentuk kerentanan.

Anak yang tumbuh dengan minim perhatian, komunikasi, dan kehangatan berpotensi merasa kesepian dan tidak dicintai, sehingga mudah menerima perhatian dari pihak luar tanpa kemampuan menilai risiko.

Ia juga menyoroti pola asuh otoriter yang menekankan “kamu harus nurut”, karena bisa membiasakan anak tunduk pada sosok dominan dan terbawa saat menghadapi pelaku grooming.

Karena itu, lingkungan terdekat perlu peka pada perubahan perilaku korban. Tanda-tandanya bisa berupa perubahan suasana hati, murung, cemas, menarik diri, berkurangnya interaksi sosial, hingga kebiasaan menyimpan rahasia.

Dalam konteks anak, Zaki menilai orang tua adalah pengamat terbaik karena paling sering bersama anak di rumah.

Jika ada perubahan pola keseharian, keluarga perlu segera mencari tahu bukan dengan menginterogasi, tetapi membangun ruang aman agar korban mau bercerita.

Pencegahan Dimulai dari Rumah, Batasan Relasi, dan Self Love

Zaki menegaskan pencegahan child grooming perlu dimulai dari keluarga yang hangat dan komunikasi terbuka.

Ia menyarankan orang tua mengurangi pola relasi yang terlalu “saklek” dan timpang, agar anak merasa dipercaya, aman, dan nyaman untuk bercerita tanpa takut dihakimi.

Dalam keluarga yang sehat, anak tidak perlu menyembunyikan masalah karena ia yakin akan didengar.

Ia juga menekankan pentingnya mengajarkan boundaries sejak dini. Anak perlu memahami bahwa tidak ada orang yang boleh mengganggu kenyamanan dan keamanan dirinya, termasuk menyentuh tubuh tanpa izin.

Keterlibatan anak dalam pengambilan keputusan di rumah, apresiasi pada proses (bukan hanya hasil), dan penerimaan tanpa syarat dapat membantu membangun harga diri, sehingga anak tidak mudah “dibeli” oleh perhatian semu.

Ketika seseorang menyadari dirinya korban, Zaki menilai itu pertanda baik karena korban mulai aware dan membutuhkan pertolongan.

Langkah utama adalah keluar dari relasi toxic dan mencari bantuan. Namun ia mengakui banyak korban kesulitan keluar karena muncul keyakinan “aku tidak bisa tanpa dia” atau “aku yang bersalah”.

Di titik ini, dukungan orang lain menjadi krusial untuk menguatkan keputusan korban, termasuk membantu mencari bantuan profesional.

Untuk remaja dan dewasa, Zaki menekankan perilaku self love. “Kita harus punya rasa cinta pada diri sendiri, kita perlu baik dengan diri sendiri,” ujarnya.

Self love membuat seseorang lebih peka ketika ada hal yang mengganggu keamanan dan kenyamanan.

Jika keluarga belum bisa menjadi tempat aman, ia menyarankan mencari support system yang sehat teman atau lingkungan yang membuat seseorang merasa diterima dan bisa bertumbuh.

Di akhir, Zaki mengingatkan konteks mahasiswa dan remaja yang mulai membangun relasi lebih serius. Menurutnya, hubungan tidak cukup dirayakan lewat rasa suka dan romantisasi.

Mengenali karakter pasangan, latar keluarga, serta pola perilaku saat menghadapi masalah penting agar relasi tidak jatuh pada dinamika dominasi dan kontrol yang membahayakan.

Penulis: Nabila Wulyandini