Fanny

Fanny Sabillah Huda Borong 8 Penghargaan dalam 2,5 Bulan

psikologi.umsida.ac.id — Fanny Sabillah Huda, mahasiswa Program Studi Psikologi semester 7 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), mencatat capaian impresif dengan meraih 8 penghargaan dari berbagai kompetisi dalam waktu kurang dari tiga bulan.

Prestasi tersebut ia kumpulkan setelah menuntaskan skripsi pada semester 6, lalu memutuskan terjun lebih serius ke arena perlombaan baik tingkat nasional maupun internasional dengan fokus pada kategori poster dan esai ilmiah.

Dorongan utamanya sederhana namun kuat: membuktikan kemampuan diri, menguji mental kompetitif, dan membawa nama kampus agar semakin dikenal melalui rekam jejak prestasi.

Persiapan yang Matang dan Tantangan Besar

Fanny

Selesai skripsi bukan berarti ritme akademik berhenti. Bagi Fanny, momen itu justru menjadi titik balik.

Ia mengakui sempat merasakan “gabut” setelah tugas besar rampung, tetapi tidak membiarkan waktu luang berubah menjadi kebiasaan pasif.

Ia memilih mengubah jeda tersebut menjadi ruang eksplorasi: mencoba banyak kompetisi, menantang diri, sekaligus mengukur kualitas ide dan kemampuan eksekusinya.

Keputusan mengikuti lomba juga lahir dari kebutuhan untuk membangun pembuktian diri. Fanny ingin memastikan bahwa mahasiswa dari Umsida mampu bersaing dengan peserta dari kampus-kampus besar.

Ia tidak menunggu “momen tepat” atau menunggu benar-benar siap; ia memulai dulu, lalu memperbaiki kualitas di setiap percobaan.

Dalam waktu singkat, ia mengikuti banyak kompetisi dengan spektrum yang beragam. Ada lomba yang berlangsung daring, ada pula yang digelar luring dengan atmosfer kompetisi yang lebih menekan.

Dari rangkaian itu, Fanny tidak hanya membawa pulang sertifikat, tetapi juga pengalaman tentang bagaimana ide dinilai, bagaimana presentasi visual memengaruhi keputusan juri, dan bagaimana ketahanan mental menentukan konsistensi.

Pengalaman dan Pesan Inspiratif untuk Mahasiswa UMSIDA

Fanny

Capaian 8 penghargaan tidak lahir dari keberuntungan. Fanny menekankan bahwa prosesnya dimulai dari strategi memilih lomba dan menyusun ide yang tepat sasaran.

“Yang pertama adalah mencari lomba yang sesuai dengan kemampuan dan minat saya. Setelah itu, saya fokus mencari ide yang menarik dan memiliki daya tarik visual untuk para juri,” ujar Fanny.

Dari pernyataan itu terlihat dua hal penting: seleksi kompetisi dan pemahaman target penilaian.

Pada lomba poster, ide yang kuat harus diterjemahkan menjadi tampilan yang ringkas, tajam, dan komunikatif. Pada lomba esai ilmiah, gagasan harus disusun runtut, argumentatif, dan didukung penalaran yang rapi.

Karena itu, kemampuan riset, penulisan, dan desain berjalan beriringan bukan dipisah sebagai keterampilan yang berdiri sendiri.

Fanny juga menyebut visualisasi sebagai kunci. Bukan sekadar “bagus” secara estetika, melainkan bagaimana ide yang kompleks bisa dipahami cepat oleh juri.

Ini menuntut kemampuan menyederhanakan pesan tanpa menghilangkan substansi sebuah kompetensi yang relevan dengan kajian psikologi, terutama ketika berbicara tentang komunikasi, persepsi, dan cara orang memproses informasi.

Tantangan terbesar datang dari intensitas. “Selama tiga bulan ini, saya sudah ikut sekitar 20 lomba, jadi saya harus pintar mengatur waktu dan menjaga kesehatan mental agar tidak burnout,” tambahnya.

Di titik ini, manajemen waktu bukan lagi teori, tetapi keputusan harian: kapan riset dilakukan, kapan desain dieksekusi, kapan naskah disunting, dan kapan tubuh harus istirahat.

Ia memahami bahwa produktivitas yang tidak dikendalikan justru bisa merusak performa jangka panjang.

Di sisi lain, persaingan dengan kampus-kampus besar membuat standar kompetisi makin tinggi.

Fanny mengakui aspek mental benar-benar diuji, terutama saat lomba luring yang menghadirkan peserta terbaik dengan persiapan matang.

Namun, tekanan itu ia jadikan pemicu untuk semakin disiplin pada proses.

Makna Kemenangan dan Ajakan untuk Mahasiswa

Meski terbiasa dengan tekanan pengerjaan, Fanny menilai momen paling berkesan tetap terjadi pada detik pengumuman.

“Proses pengerjaan lomba sebenarnya biasa saja karena sudah terbiasa dengan tekanan, namun saat nama kita diumumkan sebagai pemenang, rasanya luar biasa. Itu adalah momen yang sangat membanggakan,” ujarnya.

Pernyataan ini menunjukkan satu realitas yang sering dilupakan: kemenangan bukan hanya hasil, tetapi pengakuan atas proses panjang yang berulang mencari ide, gagal, revisi, menata ulang strategi, lalu mencoba lagi.

Dari pengalaman itu, Fanny menyampaikan pesan yang lugas untuk mahasiswa lain: “Jangan pernah takut untuk bersaing, percaya diri dengan kemampuanmu. Jika kita yakin bisa, kita akan menemukan cara untuk mencapainya. Ayo, buat Umsida terbang lebih tinggi!”

Kisah Fanny memberi pelajaran praktis: prestasi bukan soal “punya bakat” saja, melainkan keberanian memulai, ketekunan mengulang proses, dan kemampuan mengelola diri agar tidak tumbang di tengah intensitas.

Di tengah kesibukan kuliah, peluang tetap terbuka asal ada strategi, disiplin, dan kemauan untuk menanggung konsekuensi dari target yang dipasang sendiri.

Penulis: Nabila Wulyandini