Brain Rot

Fenomena Brain Rot: Saat Media Sosial Menggerogoti Fokus dan Karakter Gen-Z

psikologi.umsida.ac.id — Di tengah derasnya arus informasi, Gen-Z menghadapi tantangan baru yang datang dari layar ponsel mereka sendiri. Istilah brain rot mulai populer untuk menggambarkan kondisi mental yang lelah, sulit fokus, dan rentan terdistraksi akibat konsumsi konten digital secara berlebihan. Fenomena ini semakin terasa di kalangan remaja, terutama yang akrab dengan platform seperti TikTok dan Instagram Reels.

Apa Itu Brain Rot?

Brain rot bukanlah istilah medis resmi, tetapi mencerminkan gejala nyata yang dirasakan banyak anak muda. Ia menggambarkan penurunan kemampuan kognitif, terganggunya konsentrasi, serta menurunnya produktivitas akibat paparan konten cepat dan berulang. Menariknya, meski terkesan sepele, efeknya dapat memengaruhi kualitas belajar dan interaksi sosial.

Sebuah survei terhadap remaja berusia 16–18 tahun menunjukkan bahwa 52% responden mengalami masalah fokus setelah intens menggunakan TikTok dan Reels. Selain itu, 44% di antaranya mengaku merasakan gejala brain fog, seperti pikiran terasa berkabut dan sulit mengingat detail. Fakta ini menunjukkan bahwa kebiasaan digital yang tidak terkendali memiliki dampak nyata pada otak muda.

Karakter yang Perlahan Terkikis

Tidak hanya fokus yang terpengaruh, fenomena brain rot juga dapat menggerus karakter Gen-Z. Nilai-nilai seperti disiplin, rasa hormat, dan tanggung jawab perlahan terpinggirkan ketika gaya hidup digital didominasi oleh konsumsi konten cepat tanpa kendali. Lingkungan pertemanan, komunitas daring, hingga budaya populer sering kali mendorong perilaku impulsif dan reaktif, yang berlawanan dengan prinsip pengendalian diri.

Penguatan karakter bisa dimulai dari keluarga, komunitas, hingga ruang publik digital. Nilai seperti tabayyun (memeriksa kebenaran informasi), mujahadah an-nafs (mengendalikan diri), dan amanah tetap relevan untuk membantu Gen-Z menjadi lebih selektif dalam mengonsumsi konten dan lebih bijak dalam mengatur waktu. Pendekatan ini tidak hanya membangun daya tahan mental, tetapi juga memperkuat identitas di tengah derasnya arus budaya digital.

Perspektif Psikologi

Dari sudut pandang psikologi, brain rot erat kaitannya dengan kemampuan regulasi diri. Konsumsi konten cepat memicu otak terbiasa dengan rangsangan instan, sehingga menurunkan toleransi terhadap proses belajar yang membutuhkan waktu dan kesabaran. Kondisi ini, jika dibiarkan, dapat berdampak jangka panjang pada pola pikir dan kesejahteraan mental.

Salah satu pendekatan yang dapat membantu mengatasi brain rot adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Terapi ini membantu individu mengenali pola pikir negatif, mengubah kebiasaan yang merugikan, dan melatih teknik pengendalian diri. Beberapa sekolah bahkan mulai mengintegrasikan prinsip CBT dalam layanan konseling siswa.

Keseimbangan Digital

Fenomena brain rot bukan berarti semua konten digital adalah buruk. Justru, penggunaan media sosial secara moderat dapat memberi manfaat, seperti memperluas wawasan dan kreativitas. Kuncinya adalah keseimbangan mengatur durasi, memilih konten yang berkualitas, dan memberi waktu bagi otak untuk beristirahat dari layar.

Keluarga memegang peran penting dalam membentuk kebiasaan digital anak. Orang tua yang memberi teladan penggunaan gadget yang sehat, menetapkan aturan yang jelas, dan menyediakan aktivitas alternatif di luar layar dapat membantu meminimalkan risiko brain rot.

Brain rot adalah tantangan nyata yang dihadapi Gen-Z di era digital. Melalui sinergi antara pendidikan karakter, pendekatan psikologis, dan dukungan lingkungan, generasi muda dapat tetap fokus, berkarakter, dan memanfaatkan teknologi secara bijak. Saatnya kita bersama-sama menciptakan ruang digital yang mendukung tumbuh kembang otak dan hati mereka.

 

Penulis: Dyah Tri M.

 

Berita Terkini

magang
Mahasiswa Psikologi Ikuti Magang MBKM Sejak Semester 5
January 6, 2026By
hima psikologi
LKMMTD 2025 HIMA Psikologi Umsida Perkuat Kepemimpinan Mahasiswa
January 2, 2026By
mahasiswi umsida
Mahasiswi Umsida Nabilla Maulidia Sari Ukir Prestasi Pencak Silat di Ajang UPSCC 3
December 30, 2025By
balongdowo
Mahasiswa Psikologi FPIP Lakukan Asesmen di Desa Balongdowo, Kec Candi, Kabupaten Sidoarjo
December 26, 2025By
ar razi
DAD ke-XVI IMM Ar Razi FPIP Perkuat Ideologi Kader
December 23, 2025By
perak
Dyah Anifahsari Putri Raih Perak di Kejuaraan Taekwondo KBPP Polri Jatim Cup 3
December 19, 2025By
imm ar-razi
IMM Ar-Razi Galang Psikologi Bantuan Peduli Garuda untuk Korban Bencana Sumatra
December 16, 2025By
Self Development Days 2025: Peningkatan Diri Mahasiswa Psikologi Umsida
December 12, 2025By
pengasuhan
Fenomena Fatherless di Indonesia: Dampak Ketidakhadiran Ayah dalam Pengasuhan dan Solusi Pencegahan
December 9, 2025By
mahasiswa
Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja, Salsabila Buktikan Bisa Jadi Wisudawan Berprestasi
December 5, 2025By

Prestasi

mahasiswi umsida
Mahasiswi Umsida Nabilla Maulidia Sari Ukir Prestasi Pencak Silat di Ajang UPSCC 3
December 30, 2025By
perak
Dyah Anifahsari Putri Raih Perak di Kejuaraan Taekwondo KBPP Polri Jatim Cup 3
December 19, 2025By
mahasiswa
Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja, Salsabila Buktikan Bisa Jadi Wisudawan Berprestasi
December 5, 2025By
Mindfulness Digital
Mahasiswa FPIP Umsida Juara Lomba Video HIMPSI 2025 Lewat Karya Edukasi Mindfulness Digital
November 18, 2025By
Nabilla Maulidia Sari
Nabilla Maulidia Sari Raih Prestasi Olahraga: Bukti Konsistensi dan Semangat Juang Mahasiswa Umsida
October 28, 2025By