burnout

Fenomena Burnout pada Mahasiswa ditahun 2025: Penyebab, Dampak, dan Upaya Kampus untuk Mengatasi Kelelahan Mental

psikologi.umsida.ac.id — Fenomena burnout kini semakin sering ditemukan pada mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Kondisi kelelahan emosional, fisik, dan mental ini muncul akibat tuntutan akademik yang semakin tinggi, jadwal perkuliahan yang padat, serta tekanan untuk tetap berprestasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, laporan mengenai mahasiswa yang mengalami kelelahan ekstrem meningkat, terutama setelah banyak kampus kembali menerapkan perkuliahan tatap muka dan sistem hybrid.

Beberapa mahasiswa mengakui sulitnya menyeimbangkan perkuliahan, organisasi, pekerjaan paruh waktu, dan kehidupan pribadi.

Mereka merasa “selalu dituntut produktif”, sehingga waktu istirahat sering kali terabaikan. Kampus pun mulai menaruh perhatian lebih terhadap isu ini karena burnout berdampak pada kualitas belajar, kesehatan mental, hingga angka putus kuliah.

Menurut sejumlah psikolog pendidikan, burnout pada mahasiswa tidak hanya dipicu oleh tugas menumpuk, tetapi juga oleh pola pikir yang perfeksionis dan budaya pembandingan di media sosial.

Banyak mahasiswa merasa harus selalu menjadi yang terbaik agar tidak kalah dengan teman sebayanya. Tekanan internal dan eksternal inilah yang mempercepat munculnya kelelahan mental berkepanjangan.

Faktor Penyebab Utama: Dari Tugas Hingga Dinamika Sosial

burnout

Sumber: AI

Burnout pada mahasiswa muncul dari kombinasi berbagai faktor. Secara akademik, beban tugas yang berat menjadi penyumbang terbesar.

Dalam satu minggu, mahasiswa bisa menghadapi beberapa deadline sekaligus, presentasi kelompok, serta praktikum.

Ketika semua dikejar dalam waktu yang hampir bersamaan, tubuh dan pikiran tidak memiliki cukup waktu untuk pulih.

Faktor lain yang turut memengaruhi adalah lingkungan sosial. Banyak mahasiswa yang masih menyesuaikan diri dengan kehidupan kampus, terutama mereka yang baru memasuki tahun pertama.

Adaptasi pada teman baru, kultur organisasi, hingga tekanan untuk tampil mampu sering kali memicu stres berkepanjangan.

Mahasiswa tingkat akhir pun tidak luput dari tekanan, terutama karena tuntutan menyelesaikan skripsi, kecemasan terhadap masa depan, dan beban keluarga terkait pekerjaan setelah lulus.

Lihat Juga: Media Sosial dan Fenomena FOMO dalam Budaya Digital: Ketakutan Ketinggalan yang Kian Menguat

Selain itu, masalah finansial menjadi aspek yang sering tak disadari, namun signifikan.

Mahasiswa yang harus bekerja sambil kuliah menghadapi tekanan ganda antara tanggung jawab akademik dan tuntutan ekonomi.

Kondisi ini membuat mereka memiliki waktu istirahat lebih sedikit dibanding mahasiswa lain.

Tak kalah penting, kurangnya dukungan emosional turut memperparah kondisi burnout.

Beberapa mahasiswa merasa tidak punya tempat bercerita, atau merasa harus terlihat “kuat” di depan teman dan keluarga.

Ketika masalah dipendam terlalu lama, stres ringan dapat berubah menjadi kelelahan mental akut.

Upaya Kampus dan Strategi Mahasiswa Mengatasi Burnout

burnout

Sumber: AI

Melihat meningkatnya kasus burnout, sejumlah kampus mulai mengambil langkah preventif dan kuratif.

Beberapa universitas menyediakan layanan konseling gratis, program pendampingan akademik, hingga kelas pelatihan time management.

Ada pula kampus yang memberi ruang dialog antara mahasiswa dan dosen untuk membahas beban kuliah yang dirasa memberatkan.

Selain langkah institusional, mahasiswa juga perlu menerapkan strategi pribadi untuk menjaga keseimbangan hidup.

Psikolog menyarankan mahasiswa untuk menerapkan manajemen waktu yang realistis, memprioritaskan tugas, serta memberi jeda antara aktivitas akademik dan hiburan.

Lihat Juga: Pelatihan Psikologi Al-Fatihah oleh Tim Dosen Psikologi Umsida, Tingkatkan Layanan Guru BK SMA Muhammadiyah 3 Tulangan Sidoarjo

Aktivitas ringan seperti jalan pagi, membuat jurnal, atau mengikuti kegiatan seni dapat membantu meredakan stres harian.

Berani mengatakan “tidak” ketika beban organisasi atau kerja mulai mengganggu kesehatan mental juga penting.

Mahasiswa sering merasa harus selalu aktif di berbagai kegiatan, padahal kapasitas setiap orang berbeda.

Mengenali batas diri bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang.

Kampus dan keluarga pun diharapkan memberikan dukungan emosional yang lebih terbuka.

Mengajak mahasiswa berdiskusi tanpa menghakimi, memberi ruang untuk istirahat, serta tidak menuntut kesempurnaan dapat membantu mereka menghadapi situasi dengan lebih sehat.

Fenomena burnout pada mahasiswa menjadi pengingat bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan pencapaian akademik.

Dengan dukungan lingkungan kampus, keluarga, dan strategi pengelolaan diri yang tepat, mahasiswa dapat menghadapi tekanan dengan lebih seimbang tanpa kehilangan semangat belajar.

Penulis: Nabila Wulyandini