psikologi.umsida.ac.id — Lima mahasiswa Psikologi semester 5, yakni Gabriel Nency Widya Wahyuni, Putri Avrillia, Nabila Izzatun Nisa, Angelina Sri Dwi Lestari, dan Melysa, menjalani program magang di PT Satoria Agro Industri pada 27 Oktober 2025 hingga 27 Januari 2026.
Penempatan mereka berada di Departemen HRGA, sebuah ruang kerja yang mempertemukan teori Psikologi Industri dan Organisasi dengan dinamika perusahaan secara nyata.
Dari proses rekrutmen, pelatihan dan pengembangan organisasi, penggajian, hingga industrial relations, para mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk melihat bagaimana keputusan berbasis data dan kebijakan internal memengaruhi ritme kerja serta kesejahteraan karyawan.
“Aku dari awal memang sudah tertarik dengan bidang Psikologi Industri dan Organisasi,” ujar Gabriel Nency Widya Wahyuni.
“Kebetulan waktu itu aku dapat tawaran langsung dari Ketua Program Studi Psikologi untuk magang di PT Satoria Agro Industri, tepatnya di Departemen HRGA. Jadi aku ambil kesempatan ini karena pengen melihat dan belajar secara langsung bagaimana sistem kerja HR ketika diterapkan di perusahaan.”
Program magang ini tidak hanya menjadi pengalaman pertama yang sesuai minat bagi sebagian peserta, tetapi juga menjadi titik latihan penting untuk membangun disiplin kerja, kemampuan komunikasi, dan problem solving di lingkungan industri.
Dengan bimbingan karyawan perusahaan, mereka tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga ikut mengamati proses dan alur kerja lintas bagian.
Seleksi Administratif dan Persiapan Konversi MBKM
Proses masuk magang di PT Satoria Agro Industri berlangsung relatif sederhana, dengan fokus pada kelengkapan berkas dan kesiapan administrasi.
Dari sisi perusahaan, seleksi dilakukan melalui pengumpulan dokumen seperti CV dan proposal pengajuan magang.
Pada hari pertama, mahasiswa diminta melengkapi berkas lanjutan yang dibutuhkan untuk akses masuk ke area industri.
“Proses seleksi magang di PT Satoria Agro Industri tergolong cukup mudah,” kata Gabriel.
“Seleksi dilakukan melalui pengumpulan berkas administrasi, seperti proposal pengajuan magang dan CV. Pada hari pertama magang, kami juga diminta menyerahkan surat balasan dari pihak perusahaan, KTP, serta mengisi data diri pemagang yang digunakan untuk akses masuk ke area industri dan kebutuhan absensi selanjutnya.”
Sementara itu, dari sisi kampus, prosesnya lebih menekankan aspek administratif untuk kebutuhan program MBKM dan konversi mata kuliah.
Pengumpulan proposal ke Ketua Program Studi menjadi pintu awal, kemudian berlanjut ke pengisian berkas melalui sistem yang telah ditentukan.
“Kalau dari pihak kampus tidak ada tahapan seleksi khusus, cuma berupa penawaran kepada mahasiswa,” lanjut Gabriel.
“Tapi tetap ada administrasi yang harus disiapkan, seperti proposal pengajuan magang MBKM dan pengisian berkas melalui website Psikologi dan SIMERA untuk keperluan konversi mata kuliah.”
Rangkaian persiapan ini membangun satu pelajaran penting: di dunia kerja, kelengkapan administratif dan ketepatan prosedur bukan formalitas, melainkan bagian dari sistem keamanan, pengelolaan data, dan akuntabilitas kerja.
Rotasi HRGA dan Pengalaman Inti di Payroll
Selama magang, kelima mahasiswa dibagi ke empat bagian utama di HRGA: rekrutmen, training/Organizational Development (OD), payroll, dan industrial relations (IR).
Meski memiliki penempatan berbeda, mereka tetap diberi ruang untuk belajar lintas divisi, bahkan lintas departemen ketika ada kebutuhan kolaborasi.
“Di departemen HRD kita berlima dibagi jadi 4 bagian, ada rekrutmen, training, payroll dan Industrial relations (IR),” jelas Gabriel. “Aku di bagian payrollnya.”
Pada bagian payroll, tugas yang ditangani bersifat detail dan menuntut ketelitian tinggi. Fokusnya tidak hanya pada hitung-hitungan, tetapi juga pada kerapian data, ketepatan pembaruan sistem, serta sinkronisasi jadwal kerja yang berdampak langsung pada operasional.
“Di payroll itu kegiatannya bantu ngecek dan benerin data karyawan, upload data karyawan baru di website perusahaan, ngitung dan bagi premi, misahin data karyawan outsourcing, sama perhitungan beban kerja atau Work Load Analysis,” tuturnya.
Di luar penempatan utama tersebut, Gabriel juga mendapat kesempatan mengikuti proses interview HR, membantu sourcing calon karyawan, mengamati proses training/OD, dan terlibat dalam beberapa aktivitas kolaboratif.
Interaksi dengan tim lain menjadi pengalaman penting, karena memperlihatkan bahwa HRGA tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan target bisnis dan komunikasi brand.
“Jadi bisa dibilang kami dapat banyak pengalaman di PT Satoria Agro Industri,” tambahnya.
Tantangan Adaptasi dan Pesan Strategis untuk Mahasiswa
Pengalaman magang di lingkungan industri bukan sekadar “mengerjakan tugas,” melainkan beradaptasi dengan budaya kerja, ritme, dan standar akurasi yang ketat.
Tantangan terbesar yang dirasakan Gabriel adalah penyesuaian diri dan tuntutan ketelitian saat mengolah data karyawan.
“Tantangan yang aku hadapi selama magang itu proses penyesuaian dengan rekan kerja, atasan kerja, tugas yang diberikan atasan, ketelitian dalam mengolah data karyawan, serta manajemen waktu,” kata Gabriel.
“Tapi tantangan itu jadi pengalaman berharga yang bantu aku meningkatkan tanggung jawab, problem solving, dan disiplin.”
Momen paling berkesan bagi Gabriel bukan hanya ketika berhasil menyelesaikan pekerjaan, tetapi ketika merasakan langsung ekosistem kerja yang suportif.
Interaksi dengan banyak orang baru dan bimbingan dari karyawan perusahaan memberi rasa aman sekaligus memaksa peserta untuk belajar cepat.
“Hal yang paling berkesan selama magang itu aku bertemu dan berinteraksi dengan orang baru, terlibat langsung dalam aktivitas kerja nyata, serta mendapatkan bimbingan langsung dari karyawan,” ujarnya. “Lingkungan kerjanya menyenangkan.”
Di akhir program, Gabriel menyampaikan pesan yang cukup tegas untuk mahasiswa lain yang menaruh minat pada Psikologi Industri dan Organisasi.
Menurutnya, kesempatan magang tidak boleh diperlakukan sebagai formalitas, tetapi sebagai latihan strategis menuju dunia kerja.
“Kalau fokus kamu di bidang industri dan dapat tawaran magang, manfaatkan kesempatan dengan sebaik mungkin sebagai sarana belajar dan mengembangkan diri,” pungkasnya.
“Jangan ragu untuk bertanya, jaga sikap dan etika kerja selama di lingkungan industri, karena pengalaman magang itu jadi bekal penting sebelum nanti benar-benar terjun ke dunia kerja.”
Penulis: Nabila Wulyandini












