Mahasiswa

Mahasiswa Psikologi Umsida Magang Wijaba 2026 Perkuat Pendampingan

psikologi.umsida.ac.id — Sebanyak 11 mahasiswa Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) resmi dilepas untuk mengikuti program magang di Wijaba.

Dari total peserta, satu mahasiswa berasal dari Program Studi Psikologi, yakni Muhammad Rudi Yanto, sementara sepuluh lainnya dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).

Kehadiran Rudi menjadi penanda bahwa praktik pendidikan di lapangan tidak cukup hanya dengan penguasaan metode mengajar, tetapi juga memerlukan pemahaman perilaku, emosi, dan relasi sosial anak.

Dalam program ini, Rudi diharapkan memberi kontribusi pada aspek psikososial yang sering muncul di kelas: siswa mudah cemas saat ditanya, kurang percaya diri, sulit fokus, atau menolak terlibat karena takut salah.

Peran yang dibawa bukan layanan klinis, melainkan penguatan pendekatan ramah anak.

Ia dapat membantu tim menyusun komunikasi yang lebih empatik, menciptakan aturan kelas yang jelas tanpa mengintimidasi, serta mendorong iklim belajar yang aman sehingga siswa berani mencoba.

Melalui peran ini, ia belajar menerapkan teori asesmen, dinamika kelompok, dan komunikasi interpersonal secara langsung, sekaligus menguatkan keterampilan profesional yang dibutuhkan ketika bekerja di sekolah dan lembaga pendidikan lain.

Rudi juga bisa menjadi penghubung saat tim berinteraksi dengan guru pamong dan siswa.

Perspektif psikologi berguna untuk membaca situasi kelas secara cepat, menilai kapan siswa membutuhkan jeda, dan mengarahkan aktivitas agar tetap terstruktur.

Dengan begitu, pendampingan tidak hanya mengejar target kegiatan, tetapi menjaga proses belajar tetap sehat dan manusiawi.

Kerja Sama FPIP Umsida dan Wijaba Semakin Adaptif

Dekan FPIP Umsida, Dr. Septi Budi Sartika, M.Pd, menyampaikan bahwa kerja sama FPIP Umsida dan Wijaba telah berjalan selama beberapa tahun dan terus berkembang.

Jika sebelumnya program lebih banyak berfokus pada pendidikan, kini skemanya meluas ke bidang lain seperti lingkungan dan kesehatan.

Perluasan itu dinilai penting karena persoalan belajar anak sering terkait dengan faktor sekitar, mulai kebiasaan hidup, kondisi keluarga, hingga lingkungan sosial.

Dr. Septi menambahkan, peserta magang dipilih melalui seleksi administrasi dan wawancara. “Mahasiswa yang mengikuti program ini tidak hanya memperoleh pengetahuan di bidang pendidikan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk belajar langsung dalam bidang lain yang sangat relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya.

Ia menegaskan harapannya agar seluruh peserta menjaga profesionalisme, disiplin, dan etika, sekaligus membawa nama baik prodi, FPIP, dan Umsida.

Bagi mahasiswa Psikologi, ruang kolaborasi ini membuka kesempatan menerjemahkan teori menjadi keputusan praktis.

Rudi dapat membantu tim melakukan observasi, mengidentifikasi hambatan belajar non-akademik, serta menyarankan strategi penguatan motivasi.

Ia juga dapat mendorong refleksi tim agar beban lapangan dikelola sehat, misalnya lewat pembagian peran yang realistis, komunikasi terbuka, dan evaluasi harian berbasis temuan.

Dua Lokasi Magang Termasuk Bangli Bali

Dalam program magang Wijaba tahun ini, perhatian utama tertuju pada keikutsertaan Muhammad Rudi Yanto dari Program Studi Psikologi yang membawa perspektif berbeda dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan.

Sebagai mahasiswa Psikologi, Rudi tidak hanya hadir sebagai peserta magang, tetapi juga sebagai representasi keilmuan yang menekankan pentingnya pemahaman perilaku, emosi, serta dinamika sosial dalam proses pendidikan.

Perannya dalam tim menjadi strategis karena pendekatan pendidikan saat ini tidak bisa dilepaskan dari aspek psikologis peserta didik.

Rudi berkontribusi dalam tahap perencanaan kegiatan dengan membantu merancang pola komunikasi yang lebih empatik dan inklusif.

Ia juga terlibat dalam pelaksanaan pendampingan dengan memperhatikan respons siswa, tingkat kenyamanan mereka dalam belajar, serta dinamika interaksi yang terjadi di dalam kelas maupun di luar kelas.

Tahun ini, Wijaba menghadirkan hal baru dengan menempatkan dua mahasiswa di Bangli, Bali.

Country Director Wijaba, Arif Darmawan, menilai pengalaman lintas daerah ini akan menjadi pembelajaran yang sangat berharga karena mahasiswa harus berhadapan dengan perbedaan budaya, bahasa, dan pola interaksi sosial.

“Mahasiswa akan mendapatkan pengalaman yang sangat luar biasa dalam berinteraksi dengan berbagai karakter dan kondisi,” ujarnya.

Arif menegaskan bahwa orientasi magang bukan sekadar pemenuhan tugas akademik, melainkan memberikan dampak nyata bagi pendidikan di Indonesia.

“Mahasiswa diharapkan bukan hanya memperoleh profesi, tetapi juga memberikan kontribusi yang berarti bagi perubahan pendidikan di Indonesia,” katanya.

Dengan latar belakang keilmuan Psikologi, Rudi diharapkan mampu menghadirkan pendekatan yang lebih peka terhadap kebutuhan anak, memperkuat kerja tim, serta memastikan bahwa setiap interaksi di lapangan tetap berorientasi pada kesejahteraan dan perkembangan peserta didik.

Program ini menjadi ruang aktualisasi nyata bagi mahasiswa Psikologi untuk menerapkan teori ke dalam praktik serta membuktikan bahwa pendidikan dan psikologi merupakan dua bidang yang saling melengkapi dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Penulis: Nabila Wulyandini