psikologi.umsida.ac.id — Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan Prodi Psikologi, yakni IMM Ar-Razi, menggelar kajian Ramadhan bertema “Ramadhan dengan Iman Kritis di Era Algoritma Digital” yang dirangkaikan dengan pembagian takjil di Masjid Al Hidayah MATA Tanggulangin, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, pada 26 Februari 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari gerak nyata kader IMM dalam memadukan penguatan spiritual dengan kepedulian sosial di momentum Ramadhan, sekaligus memperluas ruang dakwah yang relevan dengan tantangan zaman.
Agenda tersebut merupakan implementasi Rencana Tindak Lanjut (RTL) dari program Darul Arqam Dasar (DAD).
Artinya, kegiatan tidak berhenti pada proses pengkaderan formal, tetapi dilanjutkan dalam bentuk aksi yang terlihat dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dengan format kajian dan pembagian takjil, IMM Ar-Razi menempatkan Ramadhan sebagai ruang latihan nilai: berpikir kritis, beribadah dengan kesadaran, serta menghadirkan manfaat sosial tanpa kehilangan orientasi ideologis.
Ketua Umum IMM Umsida, Tatan Rackhen Ariaseta, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi ruang pembuktian religiusitas kader.
Menurutnya, IMM tidak hanya bergerak di ranah intelektual, tetapi juga menghadirkan praktik sosial yang selaras dengan identitas organisasi.
Kajian diposisikan sebagai sarana refleksi diri dan penguatan literasi keagamaan, sementara pembagian takjil menjadi wujud empati sosial yang sederhana namun bermakna bagi masyarakat pengguna jalan dan jamaah sekitar masjid.
Sinergi Bidang Kader dan Tabligh

Kegiatan diawali dengan persiapan teknis pada pukul 14.00 WIB. Setelah itu, kajian berlangsung pada pukul 15.15–16.45 WIB dengan pemateri Hifni Solikhin, SAg MPd.
Materi kajian dirancang untuk menyentuh realitas generasi muda yang hidup dalam arus konten cepat, isu agama yang mudah diviralkan, dan narasi yang sering kali dipotong-potong sesuai kepentingan algoritma.
Dengan demikian, “iman kritis” dipahami bukan sebagai sikap meragukan agama, tetapi sebagai kemampuan memilah sumber, memeriksa argumen, dan menjaga adab dalam menerima informasi keagamaan.
Tema tersebut dinilai relevan karena sebagian anak muda cenderung mengonsumsi konten agama secara instan, tanpa verifikasi rujukan.
Dalam konteks ini, kajian menjadi ruang peneguhan bahwa beragama memerlukan ilmu, ketekunan, serta sikap selektif.
Pesan yang dibawa bukan sekadar seruan moral, tetapi juga ajakan untuk membangun disiplin berpikir dan bertindak, terutama ketika informasi keagamaan berseliweran dalam bentuk potongan video, kutipan pendek, atau narasi emosional yang mudah mengundang polarisasi.
Selain memperkuat pemahaman, kajian juga diarahkan sebagai pengingat bahwa Ramadhan bukan hanya tentang rutinitas, melainkan tentang perbaikan orientasi hidup: memperbarui niat, memperhalus akhlak, dan menata hubungan sosial.
Di titik inilah, kegiatan IMM Ar-Razi tidak berhenti pada forum kajian, tetapi berlanjut pada praktik langsung melalui pembagian takjil sebagai bentuk implementasi nilai.
Iman Kritis sebagai Respons Era Digital
Menjelang waktu berbuka, panitia melaksanakan pembagian takjil di depan masjid dan menyasar masyarakat yang melintas.
Kegiatan ini melibatkan 20 kader sebagai panitia, termasuk kader baru yang berperan sebagai pelaksana lapangan.
Keterlibatan berbagai jenjang kader tidak sekadar untuk memenuhi kebutuhan teknis, tetapi juga sebagai strategi pembinaan: melatih kedisiplinan, koordinasi, dan kepekaan sosial melalui kerja lapangan.
Ketua Bidang Kader, Jundy, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menyeimbangkan aspek kognitif melalui kajian dan aspek praktik melalui aksi sosial.
Proses persiapan dimulai sejak 9 Februari 2026, mencakup konsolidasi panitia, pembagian tugas, briefing akhir, hingga koordinasi logistik.
Pola kerja semacam ini memperlihatkan bahwa pembagian takjil bukan aktivitas spontan semata, melainkan hasil perencanaan organisasi yang tertib dan terukur.
Keberhasilan kegiatan juga ditopang sinergi antara Bidang Kader dan Bidang Tabligh.
Bidang Tabligh mengelola pelaksanaan kajian sebagai penguatan dakwah, sedangkan Bidang Kader memastikan keterlibatan aktif kader sebagai bagian dari pembinaan ideologi dan proses kaderisasi berkelanjutan.
Kolaborasi ini membuat agenda Ramadhan tidak sekadar seremonial, tetapi menjadi bagian dari latihan kepemimpinan melayani: hadir, bekerja, dan memberi manfaat tanpa menuntut sorotan.
Promosi kegiatan dilakukan melalui media sosial dan poster digital. Donasi dihimpun secara daring dan dikelola secara transparan, menyesuaikan kebiasaan generasi muda yang banyak berinteraksi di ruang digital.
Setelah pembagian takjil, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan buka bersama, ibadah berjamaah, diskusi, serta evaluasi internal untuk memperbaiki pelaksanaan kegiatan berikutnya.
Dampak bagi Kader dan Masyarakat

Ketua Pelaksana, Azzam Eriq Hauzan Abrar, menilai bahwa arus informasi keagamaan yang cepat perlu disikapi secara selektif dengan rujukan yang sahih.
Dalam logika tersebut, kajian tidak hanya menjadi forum mendengar, tetapi menjadi ruang penguatan literasi keagamaan yang memampukan kader bersikap matang di tengah konten yang sering memancing reaksi instan.
Sementara itu, pembagian takjil memberi pesan bahwa iman tidak berhenti pada wacana, melainkan diwujudkan dalam aksi sosial yang nyata.
IMM Umsida berharap kegiatan ini memberi dampak jangka panjang. Bagi kader, kegiatan ini memperkuat religiusitas, tanggung jawab, dan karakter ideologis, sekaligus memperkaya pengalaman berorganisasi melalui praktik lapangan.
Bagi masyarakat, pembagian takjil menjadi wujud kehadiran IMM yang membawa manfaat, mempererat relasi sosial, serta menghidupkan suasana Ramadhan di ruang publik sekitar masjid.
Secara keseluruhan, kajian dan pembagian takjil ini menegaskan komitmen IMM Umsida dalam menjalankan RTL DAD secara konkret.
Dengan keterlibatan 20 kader sebagai penggerak, kegiatan tersebut bukan hanya agenda Ramadhan tahunan, melainkan investasi kaderisasi yang terus diasah agar tetap relevan menghadapi tantangan era algoritma digital.
Penulis: Selvy
Editor: Nabila Wulyandini















