Mahasiswa Psikologi

Mahasiswa Psikologi 2023 Optimalkan Sensorik Anak Lewat Clay

psikologi.umsida.ac.id — Program kerja Kuliah Kerja Nyata bidang pendidikan menghadirkan inovasi pembelajaran sensorik bagi anak usia dini di Tadika UM.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 15 April 2026 ini menjadi salah satu upaya mahasiswa psikologi dalam membantu anak belajar melalui pengalaman langsung yang menyenangkan, kreatif, dan sesuai dengan tahap perkembangan mereka.

Program ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan pembelajaran sensorik di Tadika UM yang masih perlu diperkuat.

Berdasarkan identifikasi awal, stimulasi sensorik dalam pembelajaran belum dilakukan secara konsisten melalui aktivitas yang beragam.

Padahal, anak usia dini membutuhkan rangsangan yang tepat agar kemampuan sensorik, motorik halus, fokus, serta koordinasi tangan dan mata dapat berkembang secara optimal.

Keterbatasan media pembelajaran juga menjadi perhatian dalam kegiatan ini. Belum adanya rancangan aktivitas khusus yang secara rutin menstimulasi aspek sensorik membuat proses belajar membutuhkan pendekatan baru.

Karena itu, mahasiswa psikologi merancang pembelajaran menggunakan media clay sebagai sarana bermain sekaligus belajar.

Narasumber kegiatan, Fitrotun Nasichatur Rohmah, menjelaskan bahwa program ini diarahkan untuk memberikan pengalaman sensorimotorik yang lebih menarik bagi anak.

“Kegiatan utama di Tadika UM pastinya memberikan pembelajaran sensorimotorik dengan media pola gambar menggunakan clay pada anak usia dini di Tadika UM,” ujarnya.

Clay Jadi Media Belajar Interaktif Mahasiswa Psikologi
Mahasiswa Psikologi

Dalam pelaksanaannya, anak-anak diajak bermain clay dengan berbagai pola gambar yang telah disiapkan.

Mereka memilih warna, meraba tekstur, menekan, membentuk, hingga menempelkan clay sesuai pola. Aktivitas sederhana tersebut memiliki manfaat penting karena melibatkan kemampuan visual, taktil, motorik halus, serta kreativitas anak secara bersamaan.

Media clay dipilih karena mudah digunakan oleh anak usia dini dan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang konkret.

Anak tidak hanya mendengarkan instruksi, tetapi juga terlibat langsung dalam proses eksplorasi.

Dengan begitu, pembelajaran menjadi lebih hidup dan tidak monoton.

Fitrotun menjelaskan bahwa program ini disusun agar anak dapat belajar sambil bermain.

Pendekatan tersebut dinilai penting karena anak usia dini lebih mudah memahami sesuatu melalui aktivitas yang menyenangkan.

“Program utama yang dijalankan dalam kegiatan ini yaitu bermain clay dengan berbagai macam pola bergambar yang digunakan untuk melatih sensorimotorik pada anak. Sehingga anak dapat bermain dan belajar dengan cara yang menyenangkan,” jelasnya.

Kegiatan ini dilakukan secara bertahap. Mahasiswa Psikologi KKN terlebih dahulu mengidentifikasi permasalahan yang ada di Tadika UM, kemudian menyusun solusi pembelajaran yang sesuai.

Setelah itu, program diterapkan melalui permainan edukatif menggunakan clay dan pola bergambar.

Melalui metode ini, pembelajaran tidak hanya berpusat pada guru atau penyampai materi.

Anak-anak diberi ruang untuk mencoba, merasakan, memilih, dan menyelesaikan pola secara mandiri.

Proses tersebut membantu mereka melatih ketelitian, kesabaran, koordinasi gerak, serta kemampuan mengenali warna dan bentuk.

Anak Lebih Aktif dan Antusias

Mahasiswa Psikologi

Pelaksanaan program pembelajaran sensorimotorik ini mendapat respons positif dari peserta didik.

Anak-anak terlihat aktif mengikuti arahan, antusias memilih warna, dan menikmati proses membentuk clay pada pola gambar.

Suasana belajar menjadi lebih interaktif karena anak tidak hanya duduk pasif, tetapi ikut bergerak dan berkarya.

Fitrotun menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak dilakukan secara langsung tanpa persiapan, melainkan melalui tahapan yang jelas mulai dari identifikasi masalah hingga implementasi program.

“Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan dengan melakukan identifikasi permasalahan, lalu memberikan solusi program yang akan dilakukan di Tadika tersebut, lalu melakukan implementasi pelaksanaan program tersebut yaitu dengan memberikan permainan sekaligus pembelajaran sensorimotorik pada anak usia dini menggunakan clay dengan media pola bergambar,” ungkapnya.

Program ini diharapkan dapat menjadi alternatif pembelajaran sensorik yang bisa diterapkan secara berkelanjutan di Tadika UM.

Penggunaan media kreatif seperti clay dapat membantu guru menghadirkan pembelajaran yang lebih variatif, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.

Selain melatih sensorimotorik, kegiatan ini juga mendukung perkembangan fokus, kreativitas, koordinasi tangan, serta kemampuan anak mengenali warna dan bentuk.

Dengan pembelajaran yang menyenangkan, anak dapat belajar secara lebih optimal tanpa merasa terbebani.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa inovasi sederhana dalam media pembelajaran dapat memberi dampak besar bagi anak usia dini.

Melalui kolaborasi mahasiswa KKN dan pihak Tadika UM, pembelajaran sensorik dapat dikembangkan menjadi lebih efektif, interaktif, dan bermakna. Artikel ini disusun berdasarkan teks kegiatan yang diberikan.

Editor: Nabila Wulyandini