psikologi.umsida.ac.id — Mahasiswa Psikologi, Vanessa Mahestika Putri, mengikuti program Community Service International Volunteering Day yang dilaksanakan di kawasan Tasik Varsity, Universiti Malaya, pada Rabu (15/04/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang pengabdian masyarakat yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai universitas, baik dalam maupun luar negeri, untuk bergerak bersama menjaga kebersihan lingkungan kampus.
Melalui aksi gotong royong, para peserta membersihkan area tasik sekaligus memilah sampah berdasarkan jenisnya.
Program ini tidak hanya berfokus pada kegiatan bersih-bersih, tetapi juga menjadi sarana edukasi lingkungan.
Para peserta diajak memahami bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan membuangnya pada tempat sampah, melainkan juga perlu dikelola sejak awal melalui pemilahan yang tepat.
Sampah organik, anorganik, plastik, kertas, hingga sisa makanan perlu dipisahkan agar proses pengolahan berikutnya lebih mudah dilakukan.
Vanes menjelaskan bahwa kegiatan ini memberi pengalaman langsung tentang pentingnya kepedulian terhadap lingkungan.
“Program ini namanya Community Service International Volunteering Day, di mana kita diajak gotong royong membersihkan lingkungan Tasik Universiti Malaya, sambil memilah mana sampah yang bisa didaur ulang dan tidak,” ujarnya.
Sebagai bagian dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), program ini mengangkat isu lingkungan dan kesehatan.
Keterlibatan Vanes dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori di ruang kelas, tetapi juga mampu terlibat dalam aksi sosial yang memberi manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.
Edukasi Pemilahan Sampah Melalui Poster
Selain membersihkan area tasik, peserta juga berperan dalam edukasi pemilahan sampah melalui media visual.
Vanes mendapat tugas menempelkan poster bertema pemilahan sampah di beberapa titik di lingkungan universitas.
Poster tersebut berisi informasi mengenai jenis-jenis sampah serta cara pengelolaannya agar mudah dipahami oleh mahasiswa dan masyarakat kampus.
“Aku juga punya tugas menempelkan poster bertema pemilahan sampah di beberapa tempat di universiti,” tambahnya.
Tugas tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan karena edukasi visual dapat membantu memperkuat pesan lingkungan secara berkelanjutan.
Poster yang dipasang tidak hanya menjadi pelengkap kegiatan, tetapi juga pengingat bagi siapa pun yang berada di area kampus agar lebih peduli terhadap kebersihan.
Menurut Vanes, tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya kebersihan lingkungan, mengajarkan pemilahan sampah yang benar, menciptakan lingkungan kampus yang nyaman dan sehat, serta membangun kerja sama antarpeserta.
Kesadaran tersebut menjadi penting karena masih banyak sampah yang ditemukan tercampur dalam satu tempat.
Permasalahan utama yang diangkat dalam kegiatan ini adalah rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah.
Di kawasan Tasik Universiti Malaya, peserta masih menemukan sampah plastik, kertas, dan sisa makanan yang bercampur.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa edukasi lingkungan perlu dilakukan secara terus-menerus, bukan hanya melalui imbauan, tetapi juga melalui praktik langsung.
Relasi Lintas Kampus dan Tantangan Lapangan
Selama mengikuti kegiatan ini, Vanes mengaku mendapatkan pengalaman berharga.
Ia tidak hanya belajar tentang cara menjaga kebersihan lingkungan kampus dan memilah sampah, tetapi juga berkesempatan berinteraksi dengan peserta dari berbagai universitas.
Pengalaman tersebut memperluas wawasan, relasi, dan kemampuan komunikasinya dalam lingkungan internasional.
“Saya tidak hanya mendapatkan pengalaman dalam menjaga kebersihan lingkungan kampus dan cara memilah sampah, tetapi juga berkesempatan untuk berinteraksi dan bekerja sama dengan peserta dari berbagai universitas,” ungkapnya.
Ia menilai interaksi lintas kampus memberikan dampak positif.
“Interaksi ini membuat saya mendapatkan wawasan baru, memperluas relasi, serta meningkatkan kemampuan komunikasi,” lanjutnya.
Melalui kerja sama tersebut, peserta belajar bahwa kepedulian lingkungan membutuhkan kolaborasi, kedisiplinan, dan kesediaan untuk terlibat langsung.
Meski berjalan lancar, kegiatan ini tetap menghadirkan tantangan. Vanes menyebutkan bahwa peserta sempat menemukan sampah yang membusuk.
Selain itu, banyaknya kardus membuat kantong sampah menjadi berat saat dikumpulkan. Tantangan tersebut menjadi pengalaman lapangan yang memperlihatkan bahwa menjaga kebersihan bukan pekerjaan ringan.
Meskipun demikian, Vanes memberikan kesan positif terhadap kegiatan ini.
Baginya, Community Service International Volunteering Day memberikan dampak nyata dalam membangun kepedulian lingkungan, memperkuat kerja sama, dan menumbuhkan kesadaran bahwa perubahan dapat dimulai dari tindakan sederhana seperti memilah sampah.
Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa isu lingkungan tidak dapat ditunda.
Setiap mahasiswa memiliki peran untuk menjaga ruang belajar bersama, mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan, dan menyebarkan budaya hidup bersih kepada lingkungan sekitarnya melalui tindakan nyata secara konsisten, disiplin, dan bertanggung jawab setiap hari.
Penulis: Vanes Mahestika
Editor: Nabila Wulyandini















