Perjalanan Anjar Raih Predikat Lulusan Terbaik FKIP Umsida

Psikologi.umsida.ac.id – Di balik capaian akademik yang membanggakan, selalu ada perjalanan panjang yang tidak banyak diketahui orang.

Hal itu pula yang dialami Mochammad Anjar Firmansyah, lulusan Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi (FIKP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).

Putra dari Husni Rofi’i dan Aliyatus Sa’diyah tersebut berhasil meraih IPK 3,95 sekaligus dinobatkan sebagai lulusan terbaik FIKP.

Pencapaian itu terasa semakin istimewa karena Anjar tidak hanya menjalani perkuliahan.

Baca Juga: Kisah Rizka Ardilah, Ibu Muda yang Jadi Lulusan Terbaik Psikologi Umsida

Di saat yang sama, ia juga bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan di Sidoarjo serta mengembangkan usaha jasa fotografi.

Baginya, gelar lulusan terbaik bukan sekadar penghargaan akademik. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras, kedisiplinan, serta keberanian bertahan dalam situasi sulit mampu membawa seseorang sampai pada tujuan yang dicita-citakan.

Disiplin dan Konsistensi Menjadi Kunci Utama

Anjar mengaku sangat senang dan bersyukur ketika dinobatkan sebagai peraih IPK terbaik.

Perasaan bangga, bahagia, dan lega hadir karena perjuangan yang dijalaninya selama 3,5 tahun membuahkan hasil.

Menurutnya, kunci utama dalam meraih pencapaian itu adalah disiplin dan konsistensi. Dua hal tersebut tidak dapat dipisahkan, terutama ketika seseorang harus menjalani banyak tanggung jawab dalam waktu bersamaan.

“Disiplin saja tidak cukup kalau tidak dijalankan secara konsisten. Kuliah bukan hanya satu atau dua hari, tetapi berlangsung dari semester awal sampai akhir. Karena itu, kita harus terus menjaga pola yang sudah dibuat sampai selesai,” ungkapnya.

Anjar terbiasa menyusun agenda kegiatan sehari-hari secara terperinci. Ia mengatur waktu berangkat kerja, pulang kerja, mengikuti perkuliahan, menyelesaikan tugas, hingga mengelola bisnisnya. Jadwal tersebut menjadi pegangan agar seluruh tanggung jawab tetap dapat dijalankan.

Selain waktu, ia juga memperhatikan kondisi kesehatan. Menurutnya, padatnya aktivitas dapat berdampak besar pada fisik apabila tidak disertai pola istirahat dan pengelolaan diri yang baik.

Kuliah dengan Biaya Sendiri Jadi Prestasi Terbesarnya

Bagi Anjar, prestasi tidak selalu berbentuk piala atau kemenangan dalam perlombaan.

Ia justru menganggap kemampuannya menyelesaikan kuliah dengan biaya dari hasil kerja sendiri sebagai pencapaian paling membanggakan.

Sejak awal kuliah, ia tidak menggantungkan biaya pendidikan kepada orang tua.

Mulai dari pembayaran kuliah hingga kebutuhan wisuda, semuanya ia usahakan melalui penghasilan pribadi.

Cek Juga: Mahasiswa Psikologi Umsida Ikuti Volunteering Day di Universiti Malaya 2026

“Saya kuliah dengan biaya sendiri, tanpa menerima uang dari orang tua. Mungkin bagi orang lain terlihat sederhana, tetapi bagi saya itu adalah perjalanan yang sangat berat dan menjadi prestasi yang paling saya banggakan,” tuturnya.

Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah mengelola waktu dan keuangan. Jadwal kerja sering kali berbenturan dengan kuliah maupun kegiatan akademik. Di sisi lain, biaya pendidikan menuntutnya untuk terus produktif dan mampu mengatur pemasukan secara disiplin.

Meski demikian, dukungan orang tua tetap menjadi sumber kekuatan. Mereka memberikan perhatian melalui hal-hal sederhana, seperti menyiapkan sarapan dan bekal sebelum Anjar menjalani berbagai aktivitas.

Selain keluarga, ia juga menyebut dosen Psikologi Umsida, Haris Novianto, sebagai salah satu sosok yang banyak membimbing perjalanan akademiknya. Ketertarikan Anjar pada psikologi industri dan organisasi berkembang melalui arahan serta pendampingan dosen tersebut.

Cerita Perjalanan Semester Akhir

Masa paling berat dalam perjalanan Anjar terjadi ketika memasuki semester 7.

Saat itu, ia harus menjalani lima kegiatan sekaligus, yakni bekerja sebagai karyawan, mengikuti program magang, melaksanakan Kuliah Kerja Nyata, menyelesaikan skripsi dan tetap mengelola bisnis fotografi.

Padatnya tanggung jawab membuat waktu istirahatnya sangat terbatas. Bahkan, dalam beberapa kesempatan ia hanya tidur sekitar satu jam atau tidak tidur selama satu hingga dua hari.

Puncak tantangan terjadi ketika Anjar mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju tempat magang.

Kecelakaan tersebut menimbulkan kerugian material yang cukup besar, sementara pada waktu yang hampir bersamaan ia juga harus membayar biaya kuliah semester delapan.

Situasi itu sempat membuatnya merasa pasrah. Namun, ia memilih terus menjalani seluruh tanggung jawab sambil memperkuat doa dan keyakinan kepada Allah.

“Pada saat itu saya merasa secara logika semuanya sangat sulit. Namun, saya percaya jika Allah menghendaki saya menyelesaikannya, pasti akan ada jalan,” katanya.

Perlahan, seluruh tanggung jawab itu berhasil diselesaikan. Ia menuntaskan magang, KKN, skripsi, pekerjaan, dan bisnisnya dengan baik. Bahkan, Anjar mampu menyelesaikan masa studi dalam waktu 3,5 tahun dengan IPK hampir sempurna.

Ingin Melanjutkan S2 dan Mengajak Mahasiswa Berani Berjuang

Setelah lulus, Anjar berencana tetap mengabdi sementara waktu di perusahaan tempatnya bekerja. Ia merasa perlu membalas dukungan pihak perusahaan yang selama ini memberikan ruang baginya untuk menyelesaikan pendidikan.

Ke depan, ia memiliki keinginan melanjutkan studi ke jenjang magister. Namun, rencana tersebut akan dipersiapkan secara matang, terutama dari sisi finansial dan kesiapan pribadi agar proses pendidikan berikutnya dapat dijalani dengan optimal.

Anjar juga menitipkan pesan kepada mahasiswa Umsida agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi tekanan selama kuliah. Menurutnya, setiap orang perlu bertanggung jawab terhadap pilihan yang telah dimulai.

“Selesaikan apa yang sudah Anda mulai. Jangan menyelesaikannya dengan ala kadarnya, tetapi lakukan dengan usaha yang sungguh-sungguh agar hasil akhirnya benar-benar menjadi kemenangan,” pesannya.

Ia mengajak mahasiswa untuk tidak terlalu nyaman dengan keadaan, menghargai dukungan orang tua, serta tidak hanya menjadi penonton atas keberhasilan orang lain. Baginya, cita-cita perlu diperjuangkan melalui tekad kuat, kerja nyata, doa, ibadah, dan restu keluarga. (Elfirarm)