Psikologi.umsida.ac.id– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pencerahan (KKN P) 48 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menghadirkan program psikoedukasi anti-bullying bagi siswa SDN Kemiri 2, Desa Kemiri, Kecamatan Pacet.
Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (21/8/2026) tersebut menjadi salah satu upaya mahasiswa dalam meningkatkan kesadaran siswa mengenai pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.
Program ini dilaksanakan melalui rangkaian kegiatan sejak 18/08/2026.
Baca Juga: Dari Cek Gula Darah hingga Edukasi Gizi, KKN P 49 Umsida Dampingi Warga Pohjejer
Dengan tujuan memberikan pemahaman kepada siswa mengenai perilaku bullying, mulai dari pengertian, bentuk-bentuk perundungan, dampak yang dapat ditimbulkan, hingga cara mencegah dan menghadapi tindakan bullying.
Sebelum memasuki kegiatan utama, tim KKN P 48 Umsida menjalankan beberapa agenda pendukung.
Pada hari pertama, mahasiswa memberikan pengenalan mengenai bullying kepada siswa.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan psikotes pada hari kedua dan aktivitas luar ruangan dengan berkeliling basecamp Bukit Cendono pada hari ketiga.
Puncak kegiatan dilakukan melalui psikoedukasi menggunakan metode roleplay yang dirancang agar siswa dapat memahami materi dengan cara yang lebih menarik dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Roleplay Ajak Siswa Memahami Dampak Perundungan
Dalam kegiatan psikoedukasi, mahasiswa KKN P 48 Umsida menggunakan metode permainan peran atau roleplay sebagai pendekatan utama.
Melalui metode ini, siswa diberikan kesempatan untuk memainkan berbagai karakter, seperti korban bullying, pelaku, teman yang melihat kejadian, maupun pihak yang membantu korban.
Siswa diperkenalkan pada berbagai contoh perilaku bullying yang sering terjadi di lingkungan sekolah.
Beberapa contoh yang diberikan:
1. Mengejek teman
2. Memberikan panggilan yang tidak disukai,
3. Mengucilkan teman dari kelompok bermain,
4. hingga tindakan yang membuat seseorang merasa takut maupun tidak nyaman.
Setelah setiap simulasi selesai, mahasiswa mengajak siswa berdiskusi mengenai adegan yang telah diperankan. Mereka diajak memahami perilaku apa saja yang termasuk bullying serta bagaimana cara mengambil tindakan yang tepat ketika melihat atau mengalami perundungan.
Nur Wicaksono selaku pelaksana kegiatan menjelaskan bahwa metode roleplay dipilih agar siswa tidak hanya memahami bullying secara teori, tetapi juga mampu menerapkan sikap yang tepat dalam kehidupan nyata.
“Melalui roleplay, kami ingin siswa tidak hanya tahu bahwa bullying itu salah, tetapi juga tahu apa yang harus dilakukan ketika melihat atau mengalami bullying,” ujarnya.
Menurutnya, pencegahan bullying membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, termasuk siswa yang menjadi saksi ketika perundungan terjadi.
Teman yang melihat kejadian diharapkan tidak hanya diam, tetapi mampu membantu korban dengan cara aman seperti memberikan dukungan atau meminta bantuan guru.
Bangun Empati Siswa Melalui Pengalaman Langsung

Rahma Puspa selaku penanggung jawab kegiatan mengatakan bahwa penggunaan metode roleplay membuat siswa lebih mudah memahami pesan yang ingin disampaikan.
Dengan memerankan karakter secara langsung, siswa dapat melihat suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang.
Melalui pengalaman tersebut, siswa tidak hanya belajar mengenali tindakan bullying, tetapi juga memahami bagaimana perasaan seseorang ketika menjadi korban.
Mereka juga dilatih untuk membangun sikap peduli, berani membantu, serta menjaga hubungan positif dengan teman sebaya.
Menurut Rahma, kegiatan edukasi yang dikemas melalui permainan membuat siswa lebih aktif berpartisipasi.
Cek Juga: KKN P 9 Umsida Perkenalkan Value Clarification Technique di SDN Tambak Sari
Mereka terlihat antusias mengikuti setiap simulasi, memberikan pendapat, hingga mencoba mempraktikkan cara menghadapi situasi bullying.
Pendekatan ini diharapkan mampu membentuk kesadaran sejak dini bahwa lingkungan sekolah yang positif dapat tercipta apabila setiap siswa saling menghargai dan menghormati satu sama lain.
Sekolah Apresiasi Program dan Dorong Penerapan Sehari-hari

Kegiatan psikoedukasi anti-bullying mendapat apresiasi positif dari pihak SDN Kemiri 2.
Kepala sekolah, Nurul Komariah, menilai kegiatan tersebut memberikan wawasan baru bagi siswa karena edukasi khusus mengenai bullying sebelumnya belum banyak diberikan di lingkungan sekolah.
“Anak-anak mempunyai wawasan yang sebelumnya belum pernah ada di lingkungan kita, khususnya tentang bullying. Selama ini pembelajaran atau edukasi tentang bullying belum ada,” jelas Nurul.
Menurutnya, edukasi mengenai bullying sangat penting diberikan sejak usia sekolah agar siswa mampu mengenali perilaku yang dapat menyakiti orang lain serta memahami pentingnya menjaga hubungan baik dengan teman.
Ia juga menilai metode roleplay menjadi pendekatan yang efektif karena sesuai dengan karakter anak-anak yang lebih mudah memahami materi melalui aktivitas langsung.
Antusiasme siswa terlihat selama kegiatan berlangsung.
Cek Selengkapnya: Kolaborasi IMM Ar-Razi dan Happiness Light Hadirkan Kegiatan Edukatif bagi Anak Panti Asuhan
Mereka tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga aktif mengikuti permainan, memerankan karakter, dan menyampaikan pendapat mengenai cara menghadapi tindakan perundungan.
Melalui program ini, KKN P 48 Umsida berharap siswa SDN Kemiri 2 dapat memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai bullying serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. (Ivanda)
















