psikologi.umsida.ac.id — Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FKIP Umsida) menggelar Archery Tournament pada Sabtu, 31 Mei 2026, sebagai ajang kompetisi panahan yang mempertemukan peserta kategori U16 dan anak berkebutuhan khusus.
Kegiatan ini diikuti sekitar 51 peserta, terdiri atas 43 peserta kategori U16 dan 6 peserta kategori inklusi.
Lomba ini tidak hanya menjadi ruang adu ketepatan membidik sasaran, tetapi juga wadah pembinaan keberanian, fokus, kedisiplinan, dan rasa percaya diri peserta.
Lihat Juga: Dhia Kesuma Raih Penghargaan Olahraga di PILMAPRES 2026
Melalui olahraga panahan, peserta dilatih untuk tenang, mengatur konsentrasi, serta berani tampil dalam suasana kompetisi yang sehat.
Bagi peserta anak, pengalaman seperti ini penting karena mereka tidak hanya belajar menang atau kalah, tetapi juga belajar mengikuti aturan, menunggu giliran, dan menghargai lawan.
Ketua pelaksana lomba panahan, Ardhi, menjelaskan bahwa kategori inklusi sengaja dihadirkan karena memiliki kedekatan dengan bidang psikologi.
Menurutnya, anak berkebutuhan khusus juga perlu diberi ruang yang sama untuk berkembang melalui pengalaman kompetitif yang aman dan positif.
“Kami mengadakan kategori berkebutuhan khusus karena hal ini sangat dekat dengan psikologi. Kami juga ingin memberikan kesempatan yang sama kepada adik-adik yang memiliki kebutuhan khusus agar mereka bisa ikut merasakan pengalaman lomba,” ujar Ardhi.
Kolaborasi Teknis Bersama ManahPro

Dalam pelaksanaannya, panitia bekerja sama dengan ManahPro. Kerja sama ini dilakukan agar teknis perlombaan berjalan lebih tertib, aman, dan sesuai ketentuan panahan.
Sebab, perlombaan panahan membutuhkan pengaturan teknis yang matang, mulai dari jarak tembak, giliran peserta, keamanan arena, hingga proses penilaian.
Ardhi menyampaikan bahwa keterlibatan ManahPro membantu panitia dalam memastikan lomba berlangsung sesuai standar.
Panitia menyadari bahwa aspek teknis panahan tidak dapat dijalankan sembarangan, terutama ketika melibatkan peserta anak-anak dan peserta berkebutuhan khusus.
Pengaturan yang rapi juga menjadi cara panitia menjaga kenyamanan peserta, pendamping, dan orang tua yang hadir menyaksikan jalannya lomba.
“Kami melakukan kerja sama dengan pihak ManahPro dalam pelaksanaan lomba karena mereka lebih memahami teknis panahan. Dengan begitu, kegiatan bisa berjalan lebih rapi, aman, dan sesuai prosedur,” jelas Ardhi.
Lomba ini menghadirkan Bapak Nadzif sebagai juri sekaligus wasit. Pada kategori umum putra, juara pertama diraih Danish Muhammad Yahya, juara kedua Daffa Azka Abdurrahman, dan juara ketiga Muhammad Arif Bagrudin Al Rasya.
Pada kategori umum putri, juara pertama diraih Alifa Nabila Azzahra, juara kedua Bianca Wahyu Almira, dan juara ketiga Maulidya Fiza Kafadita.
Sementara itu, kategori inklusi menempatkan Putri Alula Zulan Ghozia sebagai juara pertama, Moch Rizky Aditya sebagai juara kedua, dan M Nuh Alamsyah sebagai juara ketiga.
Kehadiran para pemenang dari kategori inklusi menjadi bukti bahwa kompetisi dapat menjadi ruang apresiasi bagi setiap anak.
Cek Juga: Mahasiswa Psikologi Umsida Gelar NEXORA 2026
Respon Positif dari Orang Tua

Wakil Ketua Hima Psikologi, Sasya, mengatakan bahwa kegiatan ini memberikan kesan mendalam bagi panitia.
Menurutnya, respon positif dari orang tua peserta menjadi alasan kuat agar kegiatan serupa dapat diadakan kembali pada tahun berikutnya.
“Semoga ke depannya Psikologi bisa mengadakan lomba yang serupa, terutama kategori ABK ini, karena kemarin kami mendapat respon positif dari orang tua peserta,” ungkap Sasya.
Sasya menambahkan, momen paling menyentuh terjadi ketika peserta kategori inklusi yang berhasil meraih juara naik ke podium.
Bagi panitia, momen tersebut menunjukkan bahwa lomba tidak hanya berbicara tentang kemenangan, tetapi juga tentang keberanian anak untuk tampil, mencoba, dan menyelesaikan tantangan.
“Kesan yang paling menyentuh adalah saat kami melihat adik-adik yang juara naik ke podium. Itu menjadi momen yang sangat berarti bagi kami sebagai panitia,” tambahnya.
Salah satu orang tua peserta juga menyampaikan harapan agar kategori inklusi tetap dilombakan tahun depan.
Ia menilai, meskipun anaknya belum berhasil menjadi juara, pengalaman mengikuti lomba membuat anak lebih percaya diri dan merasa mampu bersaing dalam pertandingan.
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa manfaat lomba tidak berhenti pada hasil akhir, tetapi juga pada perubahan sikap anak setelah berani tampil di arena.
Model kegiatan seperti ini memperkuat citra FPIP Umsida sebagai ruang pendidikan yang peduli pada keberagaman peserta dan kebutuhan psikologis anak secara nyata.
Archery Tournament ini menunjukkan bahwa kegiatan kampus dapat menjadi ruang inklusif yang memberi kesempatan setara bagi anak-anak dengan kebutuhan beragam.
Melalui kategori inklusi, FPIP Umsida menghadirkan kompetisi yang tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga membangun pengalaman, keberanian, dan kepercayaan diri peserta.
Penulis: Nabila Wulyandini














