Psikologi.umsida.ac.id – Prestasi membanggakan kembali diraih oleh dosen Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi (FIKP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).
Dr Ghozali Rusyid Affandi SPsi MA resmi menyelesaikan pendidikan doktor di Universitas Airlangga (Unair) dengan predikat sangat memuaskan.
Capaian tersebut semakin istimewa karena ia dinyatakan lulus tanpa mengikuti ujian terbuka
Baca Juga: Ghozali Rusyid Mengatakan Puasa 2026 Bantu Kelola Stres dan Menenangkan Pikiran
setelah memenuhi persyaratan akademik melalui publikasi ilmiah bereputasi internasional.
Selama menempuh studi doktoral, Dr Ghozali berhasil menghasilkan tiga artikel ilmiah yang terindeks Scopus serta menerbitkan buku berjudul Psikologi Kebosanan.
Pencapaian tersebut menjadi bukti dedikasinya dalam mengembangkan keilmuan psikologi sekaligus memperkuat kontribusi akademik bagi dunia pendidikan.
Menurutnya, perjalanan menuju gelar doktor bukanlah proses yang singkat ataupun mudah.
Ia menggambarkan pengalaman selama empat tahun menempuh studi layaknya menaiki roller coaster yang dipenuhi berbagai tantangan, tekanan, sekaligus momen membahagiakan.
“Perjalanan studi S3 ini seperti naik roller coaster. Ada masa ketika semuanya terasa lancar, tetapi ada juga fase yang sangat menguras tenaga dan pikiran. Alhamdulillah, semua bisa saya lalui karena pertolongan Allah SWT, dukungan promotor, ko-promotor, Beasiswa Pendidikan Indonesia, keluarga, dan teman-teman seperjuangan,” ungkapnya.
Menjalani Peran Ganda sebagai Dosen dan Mahasiswa Doktor

Di balik keberhasilan tersebut, terdapat perjuangan panjang dalam membagi waktu antara kewajiban sebagai dosen, aktivitas penelitian, serta penyelesaian disertasi.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah proses revisi artikel untuk jurnal internasional bereputasi yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi.
Rutinitasnya hampir setiap hari dipenuhi aktivitas akademik.
Pada pagi hingga sore hari ia menjalankan tugas mengajar di Umsida,
sedangkan malam hari digunakan untuk menyusun disertasi, mengolah data penelitian, hingga menulis artikel ilmiah.
Bahkan, akhir pekan pun sering dihabiskan di kampus agar target studi dapat diselesaikan tepat waktu.
“Pagi saya mengajar, sedangkan malam sampai Sabtu dan Minggu saya gunakan untuk menulis dan melakukan penelitian. Anak-anak sering saya tinggalkan sampai malam, tetapi istri dan keluarga selalu memberikan dukungan serta doa yang luar biasa,” tuturnya.
Padatnya aktivitas tersebut sempat berdampak pada kondisi kesehatannya.
Ia mengaku pernah mengalami sakit kepala yang cukup berat selama proses penyelesaian disertasi.
Namun, pengalaman itu justru menjadi kenangan yang tidak terlupakan karena mengajarkannya arti ketekunan dan kesabaran dalam menghadapi proses akademik.
Bagi Dr. Ghozali, keberhasilan menyelesaikan studi doktor bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik, tetapi juga kemampuan mengatur prioritas, menjaga konsistensi, serta memperoleh dukungan penuh dari keluarga. Ia meyakini bahwa doa orang tua, istri, dan anak-anak menjadi energi terbesar yang membantunya melewati setiap tantangan.
Riset Academic Boredom Jadi Kontribusi bagi Dunia Pendidikan

Disertasi yang diteliti Dr Ghozali berangkat dari kepeduliannya terhadap kondisi psikologis santri di lingkungan pondok pesantren.
Ia memilih mengkaji fenomena academic boredom atau kebosanan akademik, yaitu kondisi kejenuhan belajar yang dapat muncul akibat padatnya aktivitas pendidikan formal dan kegiatan keagamaan yang dijalani santri setiap hari.
Menurutnya, pesantren memiliki karakteristik pembelajaran yang unik. Santri tidak hanya mengikuti proses belajar di kelas, tetapi juga menjalani berbagai aktivitas keagamaan selama hampir 24 jam.
Kondisi tersebut berpotensi memunculkan kejenuhan apabila tidak diimbangi dengan strategi pembelajaran dan dukungan psikologis yang tepat.
“Academic boredom penting untuk dikaji karena dapat menurunkan motivasi belajar, meningkatkan stres, bahkan berisiko menyebabkan peserta didik kehilangan semangat dalam menempuh pendidikan. Saya ingin memahami faktor-faktor yang memengaruhinya agar dapat dirancang intervensi yang lebih efektif,” jelasnya.
Hasil penelitian tersebut tidak hanya dituangkan dalam disertasi, tetapi juga melahirkan buku Psikologi Kebosanan yang membahas berbagai aspek terkait kejenuhan akademik.
Melalui karya tersebut, ia berharap para pendidik memiliki referensi untuk membangun lingkungan belajar yang lebih sehat, adaptif, dan mendukung kesejahteraan psikologis peserta didik.
Siapkan Inovasi untuk Pengembangan Psikologi Umsida

Setelah resmi menyandang gelar doktor, Dr Ghozali telah menyiapkan sejumlah gagasan untuk mendukung kemajuan Program Studi Psikologi Umsida. Salah satu inovasi yang ingin diwujudkan adalah pembentukan Pusat Kajian Psikologi Pendidikan Islam yang berfokus pada penelitian mengenai anak dan remaja, khususnya di lingkungan pesantren.
Selain itu, ia berencana mengembangkan berbagai program psikoedukasi dan intervensi psikologis yang dapat diterapkan di sekolah maupun pondok pesantren di wilayah Sidoarjo dan sekitarnya. Menurutnya, hasil riset seharusnya tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia juga ingin mengoptimalkan fungsi Laboratorium Psikologi Umsida agar tidak hanya menjadi tempat praktikum mahasiswa, tetapi berkembang menjadi pusat asesmen, konseling, dan pengembangan layanan psikologi berbasis riset.
Menutup wawancara, Dr Ghozali membagikan pesan kepada mahasiswa maupun dosen yang sedang berjuang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia mengingatkan bahwa setiap proses akademik pasti memiliki tantangan, tetapi semuanya akan menjadi pengalaman berharga jika dijalani dengan kesungguhan.
“Jangan pernah menyerah ketika berada di titik terendah dalam perjalanan akademik. Nikmati setiap prosesnya, jaga kesehatan fisik dan mental, serta libatkan Allah SWT dalam setiap langkah perjuangan. Lakukan yang terbaik dengan sungguh-sungguh, lalu serahkan hasilnya kepada-Nya,” pesannya.
Melalui pencapaian ini, Dr Ghozali tidak hanya menorehkan prestasi pribadi, tetapi juga memperkuat komitmen Prodi Psikologi FIKP Umsida dalam menghadirkan dosen yang unggul di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Prestasi tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi sivitas akademika Umsida untuk terus berkarya, berinovasi, dan memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan.(Elfirarm)














