Perjalanan Rizka Ardilah Meraih IPK Tertinggi di Tengah Kesibukannya Menjadi Ibu

Psikologi.umsida.ac.id – Rizka Ardilah, lulusan Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), berhasil menorehkan capaian membanggakan dengan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,94.

Prestasi tersebut mengantarkannya sebagai lulusan terbaik Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi (FIKP).

Putri Bapak Sutrisno dan almarhumah Ibu Sunami itu mengaku tidak pernah membayangkan akan memperoleh predikat tersebut.

Sejak awal menempuh pendidikan, perempuan yang akrab disapa Rizka tersebut tidak menetapkan target menjadi mahasiswa dengan nilai tertinggi.

Lihat Juga: Mahasiswa Psikologi Umsida Raih Juara 1 Pencak Silat 8th UNSC 2026

Karena itu, kabar mengenai pencapaiannya terasa seperti hadiah yang datang tanpa diduga. Rasa bahagia, haru dan syukur bercampur menjadi satu saat ia mengetahui hasil akhir perjalanan akademiknya.

“Jujur, perasaan saya campur aduk. Saya terharu, tidak menyangka, dan sangat bersyukur. Dari awal saya tidak pernah memasang target menjadi lulusan terbaik. Jadi, ketika mengetahui hasilnya, saya sempat berpikir, ‘Benarkah ini?’ Bagi saya, penghargaan ini benar-benar hadiah yang tidak terduga,” ungkap Rizka.

Perjalanan Akademik

Menurut Rizka, keberhasilan akademik tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memahami materi, tetapi juga oleh niat yang dibangun sejak awal.

Ia memilih menjalani perkuliahan dengan tujuan utama mencari ilmu, bukan sekadar mengejar angka dalam transkrip akademik.

Ketertarikannya terhadap psikologi membuat berbagai proses perkuliahan terasa lebih bermakna.

Baca Juga: Dhia Kesuma Raih Penghargaan Olahraga di PILMAPRES 2026

Meskipun harus menghadapi tugas, ujian, praktik, dan berbagai tuntutan akademik lainnya, ia tetap menikmati perjalanan tersebut karena bidang psikologi memang menjadi salah satu minat utamanya.

“Kuncinya adalah niat. Sejak awal, saya meniatkan kuliah untuk benar-benar mencari ilmu, bukan hanya mendapatkan nilai. Karena psikologi merupakan bidang yang saya sukai, seberat apa pun prosesnya tetap bisa saya jalani dengan senang. IPK ini saya anggap sebagai bonus dari konsistensi belajar,” jelasnya.

Bagi Rizka, pengalaman paling berkesan selama menjadi mahasiswa bukan hanya satu kegiatan atau penghargaan tertentu. Ia justru menilai keseluruhan proses belajar sebagai bagian paling berharga dalam perjalanan kuliahnya.

Setiap mata kuliah yang dipelajari membantunya memahami manusia dari berbagai sisi. Menariknya, ilmu tersebut tidak hanya digunakan untuk membaca perilaku orang lain, tetapi juga menjadi jalan untuk mengenali dirinya sendiri dengan lebih baik.

“Psikologi mengajarkan saya memahami manusia, tetapi pada akhirnya ilmu itu juga kembali kepada diri sendiri. Saya menjadi lebih mengenal cara berpikir, perasaan, dan respons diri. Hal itulah yang membuat perjalanan kuliah ini terasa berbeda dan benar-benar berharga,” tuturnya.

Menjalani 3 Peran Sekaligus

Di balik capaian akademiknya, Rizka harus melewati perjalanan yang tidak sederhana. Tantangan terbesar dirasakannya ketika memasuki semester akhir. Pada periode tersebut, ia menjalani tiga peran sekaligus, yakni sebagai mahasiswa, istri, dan ibu.

Ia bahkan menjalani masa kehamilan hingga melahirkan ketika masih aktif mengikuti perkuliahan. Kondisi tersebut membuatnya harus membagi energi, pikiran, dan waktu untuk berbagai tanggung jawab yang sama-sama penting.

Rizka mengaku pernah berada pada titik ketika dirinya merasa tidak akan mampu menyelesaikan studi. Namun, ia berusaha bangkit dengan belajar menentukan prioritas dan menetapkan batasan dalam setiap peran.

Ia mulai menyadari bahwa tidak semua hal harus diselesaikan secara sempurna dalam waktu yang bersamaan. Baginya, menerima keterbatasan bukan berarti menyerah, melainkan bentuk kesadaran untuk menjaga diri agar tetap mampu menjalani proses.

Dalam mengatur waktu, Rizka tidak menggunakan jadwal yang terlalu ketat. Ia lebih nyaman membuat daftar prioritas harian. Setiap hari, ia menentukan tanggung jawab yang paling mendesak, baik sebagai ibu, istri, maupun mahasiswa.

“Saya bukan tipe yang menggunakan jadwal secara kaku. Saya lebih memilih membuat daftar prioritas harian. Saya melihat dulu hal yang paling membutuhkan perhatian pada hari itu. Realistisnya, tidak mungkin semua peran dijalankan seratus persen dalam waktu bersamaan, jadi saya belajar menerima hal tersebut,” katanya.

Dukungan terbesar dalam perjalanan akademiknya datang dari sang suami.

Rizka menyebut suaminya bukan hanya sebagai pendukung, tetapi juga rekan hidup yang membersamainya sejak sebelum memasuki bangku kuliah hingga berhasil menyelesaikan pendidikan.

Selain memberikan dukungan emosional, sang suami turut mendukung kebutuhan studinya. Kehadiran anaknya juga menjadi kekuatan tersendiri.

Sang anak telah menemani perjuangannya sejak masih berada dalam kandungan hingga akhirnya lahir di tengah perjalanan kuliah.

Rizka juga meyakini bahwa seluruh kemudahan yang diperolehnya tidak terlepas dari pertolongan Allah. Ketika usahanya terasa terbatas, ia memilih menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.

Memilih Keluarga sebelum Berkontribusi di Dunia Industri

Setelah lulus, Rizka belum langsung memutuskan untuk memasuki dunia kerja. Saat ini, ia masih menjalani fase sebagai ibu menyusui dan ingin memberikan perhatian penuh kepada anaknya hingga mencapai usia sapih dua tahun.

Keputusan tersebut diambil dengan kesadaran bahwa setiap fase kehidupan memiliki prioritas yang berbeda. Setelah masa itu terlewati, Rizka berencana memasuki dunia industri dan mulai berkontribusi menggunakan ilmu psikologi yang telah dipelajarinya selama kuliah.

Kepada mahasiswa Umsida, ia berpesan agar menemukan alasan yang kuat sebelum mengejar sebuah pencapaian. Menurutnya, alasan tersebut akan menjadi sumber tenaga ketika seseorang berada pada masa yang paling sulit.

Ia juga mengingatkan bahwa nilai bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. Ilmu, adab, konsistensi dan kemampuan bertahan dalam proses memiliki makna yang jauh lebih besar.

“Temukan alasan mengapa kalian kuliah karena alasan itulah yang akan menjadi bahan bakar ketika menghadapi masa sulit. Jangan hanya fokus kepada angka, tetapi kejarlah ilmunya. Nikmati prosesnya dan ingat bahwa masa tersulit bukanlah tujuan akhir. Teruslah berjalan karena Allah selalu mengetahui setiap perjuangan kita,” pungkas Rizka.(Elfirarm)