Psikologi.umsida.ac.id – Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi (FIKP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menyelenggarakan kelas Hypno Communication.
sebagai ruang pengembangan kompetensi mahasiswa dalam membangun komunikasi yang efektif. Kegiatan ini menghadirkan Esa Kartika Dewantari Samudra SPsi MPd CHT sebagai narasumber.
Kelas besar dilaksanakan 11/07/26, di Aula KH Mas Mansyur, GKB 2 Lantai 7, Kampus 1 Umsida.
Baca Juga: Kolaborasi Internasional Psikologi Umsida dan Malaysia, AI Jadi Sorotan dalam Dunia Pendidikan
Setelah memperoleh pemahaman dasar, peserta melanjutkan pembelajaran melalui kelas kecil yang diselenggarakan secara bertahap agar setiap mahasiswa memiliki kesempatan lebih luas untuk berlatih.
Ketua Hima Psikologi Umsida, Ahmad Fairus Thoriq Ma’ruf, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang bukan hanya untuk menambah pemahaman teoritis.
Peserta juga diarahkan agar mampu menggunakan teknik komunikasi secara tepat, bertanggung jawab, dan sesuai dengan konteks keilmuan psikologi.
Komunikasi Menjadi Kompetensi Dasar Mahasiswa Psikologi

Menurut Fairus, kemampuan berkomunikasi merupakan salah satu kompetensi utama yang perlu dimiliki mahasiswa Psikologi.
Dalam berbagai aktivitas akademik maupun profesional, mahasiswa akan berhadapan dengan individu yang memiliki latar belakang, karakter, kebutuhan, dan cara memahami pesan yang berbeda.
Keterampilan tersebut diperlukan ketika mahasiswa melakukan wawancara, konseling, asesmen, observasi, hingga berinteraksi dengan masyarakat.
Komunikasi yang kurang tepat dapat menimbulkan salah pengertian, menghambat terbentuknya kepercayaan, bahkan memengaruhi kualitas informasi yang diperoleh.
“Hypno Communication penting karena kemampuan berkomunikasi menjadi salah satu kompetensi dasar mahasiswa Psikologi. Melalui kelas ini, peserta belajar membangun rapport, memilih bahasa yang tepat, dan menyampaikan pesan dengan lebih efektif,” jelas Fairus.
Membangun rapport atau hubungan yang nyaman menjadi bagian penting dalam komunikasi psikologis. Seseorang akan lebih terbuka ketika merasa aman, dihargai, dan dipahami.
Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan berbicara, tetapi juga perlu belajar mendengarkan, membaca respons lawan bicara, dan menyusun pesan yang mudah diterima.
Fairus menambahkan, keterampilan yang diperoleh dari kelas ini juga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa diharapkan mampu membangun interaksi yang lebih sehat bersama teman, keluarga, dosen, maupun lingkungan sosialnya.
Belajar Teori melalui Kelas Besar, Praktik di Kelas Kecil

Pelaksanaan kelas Hypno Communication dibagi menjadi dua tahap, yaitu kelas besar dan kelas kecil. Kelas besar menjadi sesi awal untuk memberikan landasan pemahaman yang sama kepada seluruh peserta.
Dalam sesi tersebut, narasumber menyampaikan konsep dasar Hypno Communication, prinsip komunikasi bawah sadar, serta cara membangun hubungan interpersonal yang efektif.
Peserta diperkenalkan pada pentingnya pemilihan kata, intonasi, sikap, dan pola komunikasi dalam memengaruhi cara seseorang menerima pesan.
Setelah mengikuti kelas besar, mahasiswa melanjutkan kegiatan melalui kelas kecil.
Cek Juga: Kolaborasi Psikologi Umsida dan UM Jember Hadirkan Pembelajaran yang Lebih Aplikatif
Format kelompok yang lebih terbatas membuat pembelajaran berlangsung interaktif dan memberikan kesempatan kepada peserta untuk terlibat secara langsung.
“Pada kelas kecil terdapat praktik, simulasi komunikasi, dan umpan balik dari pemateri. Dengan begitu, peserta dapat mengaplikasikan materi yang sebelumnya dipelajari dalam kelas besar,” ungkap Fairus.
Sesi simulasi menjadi salah satu bagian yang paling menarik. Peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi mencoba langsung teknik membangun komunikasi yang nyaman dan efektif.
Dari praktik tersebut, mereka dapat mengetahui kekuatan maupun kekurangan cara berkomunikasi yang selama ini digunakan.
Umpan balik dari narasumber juga membantu peserta memahami bahwa keberhasilan komunikasi tidak hanya ditentukan oleh isi pesan. Cara menyampaikan, waktu, situasi, serta kondisi emosional lawan bicara turut memengaruhi keberhasilan interaksi.
Hadirkan Praktisi Psikologi dan Certified Hypnotherapist
Hima Psikologi Umsida memilih Esa Kartika Dewantari Samudra sebagai narasumber karena memiliki latar belakang yang relevan dengan materi kegiatan.
Selain menguasai bidang psikologi dan pendidikan, ia juga memiliki kompetensi sebagai Certified Hypnotherapist atau CHT.
Kombinasi keilmuan dan pengalaman tersebut dinilai penting agar peserta memperoleh pembahasan yang seimbang antara teori dan praktik.
Materi yang disampaikan juga dapat ditempatkan dalam konteks psikologi sehingga tidak sekadar dipahami sebagai teknik memengaruhi orang lain.
“Kami memilih Ibu Esa karena beliau memiliki latar belakang di bidang psikologi dan pendidikan serta kompetensi sebagai Certified Hypnotherapist. Beliau tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki pengalaman menerapkan Hypno Communication secara profesional,” terang Fairus.
Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan mereka selama kegiatan. Mahasiswa aktif mengikuti diskusi, menyampaikan pertanyaan, serta terlibat dalam berbagai simulasi yang diberikan.
Menurut Fairus, praktik menjadi momen yang paling berkesan karena mahasiswa dapat merasakan secara langsung perbedaan antara komunikasi biasa dan komunikasi yang dibangun dengan memperhatikan hubungan, pilihan bahasa, serta respons lawan bicara.
Mendorong Penerapan Komunikasi secara Etis

Melalui kegiatan ini, panitia berharap mahasiswa tidak berhenti pada pemahaman mengenai konsep Hypno Communication.
Pengetahuan yang diperoleh perlu diterapkan secara etis dan bertanggung jawab, khususnya karena mahasiswa Psikologi akan banyak berinteraksi dengan individu dalam beragam kondisi.
Keterampilan tersebut dapat digunakan saat berdiskusi di kelas, mengerjakan tugas kelompok, melakukan wawancara, maupun mengikuti praktik konseling dan asesmen.
Dalam kehidupan sosial, komunikasi yang baik juga dapat membantu mahasiswa menyampaikan pendapat tanpa merendahkan orang lain serta mengelola perbedaan secara lebih bijaksana.
“Harapan kami, peserta mampu menerapkan Hypno Communication secara etis dalam berbagai situasi. Ilmu ini dapat membantu mereka ketika berdiskusi, melakukan wawancara atau konseling, bekerja dalam tim, serta berinteraksi dengan keluarga dan masyarakat,” katanya.
Fairus berharap kelas ini menjadi bekal bagi mahasiswa untuk terus meningkatkan kompetensi interpersonal.
Dengan demikian, pembelajaran yang diperoleh tidak hanya tersimpan sebagai teori, melainkan berkembang menjadi keterampilan yang berguna selama perkuliahan, memasuki dunia kerja, dan menjalani kehidupan sehari-hari.(Elfirarm)
















