psikologi.umsida.ac.id – Alat ukur psikologi tidak cukup hanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Perbedaan budaya juga perlu diperhatikan agar hasil pengukuran tetap akurat.
Hal tersebut menjadi perhatian Dr Ghozali Rusyid Affandi SPsi MA, Ketua Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi (FIKP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).
Ia hadir sebagai pemateri dalam kegiatan Visiting Lecture Universitas Negeri Manado (UNIMA). Kegiatan ini berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting, tanggal 27 Oktober 2026, pukul 08.30–10.30 WITA.
Lebih dari 80 peserta mengikuti kegiatan tersebut, terdiri atas mahasiswa dan dosen Psikologi UNIMA.
Mengangkat tema Adaptasi Alat Ukur: Dari Teori ke Praktik – Prinsip Cross-Cultural Adaptation, kegiatan ini membahas pentingnya menyesuaikan instrumen psikologi dengan karakteristik budaya Indonesia.
Perkuat Kerja Sama Akademik Antaruniversitas
Kegiatan Visiting Lecture menjadi implementasi kerja sama akademik antara Umsida dan UNIMA.
Ghozali menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut nota kesepahaman (MoU) kedua perguruan tinggi.
Kerja sama ini diarahkan untuk memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pendidikan dan pengajaran.
Selain itu, kegiatan ini memberikan perspektif baru kepada mahasiswa mengenai tantangan adaptasi instrumen psikologi.
“Kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari MoU kerja sama antara Umsida dan UNIMA,” jelas Ghozali.
Menurutnya, kolaborasi antarkampus penting untuk memperluas wawasan akademik mahasiswa.
Terlebih, setiap wilayah Indonesia memiliki karakteristik budaya dan nilai sosial berbeda.
Perbedaan tersebut menjadi pertimbangan penting dalam pengembangan instrumen pengukuran psikologi.
Ghozali juga berharap kegiatan ini membuka peluang penelitian kolaboratif bidang psikometri.
Mahasiswa UNIMA yang mengambil mata kuliah Psikometri menjadi peserta utama kegiatan.
Sejumlah dosen pengampu dan dosen Psikologi UNIMA turut mengikuti pembelajaran tersebut.
Pentingnya Adaptasi Alat Ukur Psikologi
Dalam pemaparannya, Ghozali menekankan pentingnya adaptasi instrumen psikologi secara ilmiah.
Ia menyebut sekitar 90 persen alat ukur psikologi berasal dari Barat.
Menurutnya, penggunaan instrumen tersebut memerlukan penyesuaian terhadap budaya masyarakat Indonesia.
“Tanpa proses adaptasi yang benar, kita berisiko melakukan kesalahan pengukuran,” terangnya.
Kesalahan tersebut dapat memengaruhi validitas data dalam penelitian psikologi.
Oleh karena itu, proses adaptasi perlu mengikuti pedoman International Test Commission (ITC).
Ghozali menjelaskan lima tahapan penting dalam proses adaptasi alat ukur.
Tahapan pertama mencakup penerjemahan maju dan penerjemahan balik atau forward-backward translation.
Selanjutnya, penilaian ahli dilakukan untuk memastikan kesesuaian dan validitas isi.
Tahapan berikutnya meliputi uji keterbacaan untuk mengetahui pemahaman responden terhadap instrumen.
Kemudian, peneliti melakukan pengujian validitas konstruk menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA).
Pengujian measurement invariance juga diperlukan untuk menilai kesetaraan pengukuran antarkelompok budaya.
Tahap terakhir berkaitan dengan pengujian reliabilitas sesuai konteks budaya.
Sebagai contoh, Ghozali membagikan pengalaman penelitiannya mengenai adaptasi AEQ Boredom Subscale.
Instrumen tersebut digunakan dalam konteks pendidikan pondok pesantren.
Ia menjelaskan bahwa penerjemahan bahasa saja belum menjamin kesesuaian makna psikologis.
Antusiasme Peserta Buka Peluang Kolaborasi
Meski berlangsung secara daring atau online, kegiatan tersebut mendapatkan respons positif dari peserta.
Mahasiswa UNIMA aktif mengajukan pertanyaan mengenai tantangan adaptasi lintas budaya.
Salah satu pembahasan menarik berkaitan dengan nilai Mapalus masyarakat Minahasa.
Mahasiswa mempertanyakan kesesuaian konstruk psikologi Barat dengan nilai budaya lokal tersebut.
Ghozali mengaku terkesan dengan kemampuan mahasiswa dalam mengajukan pertanyaan kritis.
“Mereka tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi menjadi diskutan aktif,” ungkapnya.
Tantangan lain muncul ketika menjelaskan konsep statistik kepada mahasiswa sarjana.
Untuk mempermudah pemahaman, Ghozali menggunakan analogi sederhana dan contoh penelitian nyata.
Diskusi juga berkembang menuju peluang penelitian bersama kedua perguruan tinggi.
Salah satu rencananya adalah adaptasi dan validasi instrumen Academic Well-being.
Penelitian tersebut akan mempertimbangkan karakteristik mahasiswa Indonesia Timur.
Selain penelitian, kerja sama diharapkan berkembang melalui publikasi ilmiah bersama.
Ghozali juga membuka peluang pertukaran mahasiswa, dosen tamu, dan pengabdian masyarakat.
“Ini bukan sekadar kuliah tamu,” tegasnya.
Ia berharap kolaborasi tersebut menghasilkan kontribusi nyata bagi perkembangan psikologi Indonesia.
Menurutnya, kegiatan ini sejalan dengan semangat Kampus Berdampak yang dikembangkan Umsida.
Melalui kolaborasi nasional, kontribusi keilmuan Umsida diharapkan menjangkau masyarakat lebih luas.
Penulis: Nabila Wulyandini

















